Mimpi-mimpi Merah

Mimpi-mimpi Merah

PANKAJ Mishra. Dunia Barat, terutama sirkuit kebudayaan Anglo-Saxon, mengenalnya karena esai-esai dan bukunya yang kritis tentang anti-kolonialisme, pertemuan Barat dan Timur, krisis kapitalisme dan politik kontemporer, hingga peranan gelora dalam politik. Tapi siapa sangka penulis India bernas yang sedang naik daun ini besar di desa dan punya cita-cita sebagai penulis karena satu hal: pusat kebudayaan Soviet.

Ya, tidak disangka, Pankaj Mishra adalah poster boy dari cita-cita politik Kiri, bahwa anak kampung juga bisa punya kesempatan membaca Tolstoy, Chernyshevsky, hingga analisis tentang sejarah dan politik dunia dan menjadi penulis terkemuka. ‘Meskipun berkomitmen terhadap kemajuan sosialisme,’ tulis Mishra, ‘buku-buku terbitan Soviet memberikan kesempatan terbaik untuk menikmati kepemilikan pribadi’ – setidaknya, dalam hal memburu pengetahuan. Di India dekade 1980an, pusat-pusat kebudayaan Soviet tersebar luas di kota-kota besar maupun kecil, bersaing dengan pusat-pusat kebudayaan dari negeri-negeri Blok Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Mishra tumbuh dengan buku-buku berkualitas tinggi dengan biaya murah yang disediakan oleh pusat kebudayaan Soviet.

Sejarah sosialisme, terutama varian sosialisme negara di Blok Timur, memang punya bercak-bercak kelam. Tetapi, ada juga pencapaian-pencapaian yang selama ini jarang dilihat – pencapaian yang berdampak bagi banyak manusia, seperti Mishra. Pencapaian yang memberikan harapan, dan sedikit memberikan kepercayaan bahwa masa depan adalah Sosialisme.

Jikalau Blok Barat mempromosikan American Dream atau Impian Amerika sebagai manifestasi kebahagian dalam kapitalisme, maka bolehlah kita sebut berbagai pencapaian politik Kiri ini dan harapan yang sempat tumbuh karenanya sebagai mimpi-mimpi merah.

Bagi jutaan buruh, petani melarat, manusia-manusia kulit berwarna, serta aktivis radikal di Barat dan Timur, di Utara dan Selatan, mimpi-mimpi merah memberikan contoh nyata bagaimana dunia yang lain itu mungkin.

Tengok misalnya Hungaria pasca Perang Dunia Kedua. Tentu, ada represi dan pengekangan politik di bawah rezim negara-partai yang berkuasa pada waktu itu. Tapi perlu diingat, ada pula sejumlah eksperimen dari negara yang mendapat dukungan popular pada waktu itu. Zsuzsanna Clark, seorang penulis Hungaria yang bermukim di Inggris, misalnya menulis bagaimana eksperimen kebudayaan yang ada pada waktu itu bertujuan untuk mendorong agar produk-produk kebudayaan dengan kualitas tertinggi – entah itu musik, sastra, atau seni tari – dapat dinikmati oleh rakyat pekerja. Hasilnya, kata Clark, ‘subsidi besar-besaran diberikan kepada berbagai institusi (kebudayaan) termasuk orkestra, gedung opera, teater, dan bioskop…rumah-rumah kebudayaan dibangun di setiap kota dan desa, sehingga kelas pekerja ndeso seperti orang tua saya dapat menikmati pentas kebudayaan terbaik oleh seniman terbaik.’

Saya bayangkan, mungkin pada waktu itu keluarga peternak kampung dan buruh pabrik ngobrolin bukan hanya soal kondisi kerja, tetapi juga soal puisi-puisi Goethe dan Brecht, sembari saling bercanda.

Dan ini bukan hanya terjadi di Hungaria saja. Para revolusioner Kuba misalnya, selain mempromosikan layanan dan pendidikan kesehatan berkualitas sebagai hak juga mempromosikan pengembangan musik klasik dan tradisional secara masif.

Bagaimana dengan eksperimen sosialis di luar rezim negara-partai? Untuk itu, kita bisa menengok Chile di masa pemerintahan Salvador Allende. Dalam eksperimen transisi menuju sosialisme melalui jalur parlementer dan elektoral ini, pemerintahan Allende sudah mencoba merumuskan suatu sistem manajemen komunikasi dan informasi yang dikelola secara langsung oleh dewan-dewan pekerja melalui komputasi waktu nyata (real time). Sebuah embrio internet yang disebut sebagai Project Cybersynyang memungkinkan perencanaan ekonomi kompleks dilakukan secara terpimpindan demokratik – eksperimen yang, sayangnya, terhenti karena pemerintahan Allende keburu dikudeta oleh Pinochet.

Kita bahkan belum berbicara mengenai contoh-contoh pencapaian lain. Ekspedisi luar angkasa Soviet misalnya, yang berhasil mengirimkan anak petani dan kosmonot perempuan pertama ke luar angkasa dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Yang terinspirasi salah satunya adalah Camille Paglia, seorang feminis anti-posmo dan veteran gerakan sosial 1960an di Amerika Serikat. Paglia pernah menulis bagaimana Valentina Tereshkova, sang kosmonot perempuan pertama itu, dan juga Amelia Earhart, penerbang perempuan pertama yang berhasil melintasi Samudra Atlantik, menjadi inspirasi baginya sebagai remaja berusia 16 tahun untuk menuntut kesetaraan kesempatan bagi perempuan.

Kemudian, sebelum orang-orang heboh dengan kemajuan teknologi komputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) akhir-akhir ini, Bulgaria di masa Perang Dingin telah cukup berhasil mengembangkan teknologi komputasi, komunikasi, dan robotik dan menghasilkan debat-debat filsafat dan karya sastra dahsyat mengenai human-computer interaction – sampai-sampai negara tersebut dijuluki sebagai ‘Silicon Valley di Blok Timur.’

Tak lupa, ada juga banyak contoh yang lebih dekat, dari tanah air sendiri. Orang-orang dan organisasi-organisasi Kiri di zaman pergerakan nasional dan dekade-dekade awal kemerdekaan misalnya berhasil membuat berbagai lembaga dan ruang pendidikan popular yang memberikan ruang partisipasi yang besar bagi rakyat pekerja untuk mendidik dirinya sendiri.

Contoh-contoh di atas mungkin terkesan anekdotal, tapi persis di titik inilah kita perlu berefleksi. Tatanan ideologis yang berkuasa sekarang, baik dalam varian liberal maupun konservatif, menakut-nakuti kita dengan propaganda bahwa setiap upaya untuk memperbaiki kondisi umat manusia dan alam akan berujung kepada katastrofi. Barangsiapa yang bertindak bagai Tuhan (playing God) – dengan mengutak-atik tatanan ekonomi-politik pro-pasar dan pro-pengawasan negara misalnya – maka sesungguhnya ia sedang mengundang bala bencana.

Tetapi, propaganda tersebut sebenarnya hanyalah sebuah bentuk kehiprokritan alias kemunafikan. Kita tahu, bahwa yang disebut-sebut sebagai ‘Dunia Bebas,’‘Peradaban,’  atau ‘Pembangunan – sebuah klaim kosong yang juga diulang-ulang kembali oleh administrasi Trump dan Jokowi akhir-akhir ini – sesungguhnya bertumpu pada perampasan, penghisapan, dan pengekangan. Dan, yang tidak kalah penting, jangan lupa: kekalahan telak Fasisme di Perang Dunia Kedua tidak mungkin terjadi tanpa adanya komitmen dan kekuatan politik anti-fasis dari Uni Soviet dan orang-orang Kiri!

Tentu, kita tidak boleh naif dan alpa terhadap sejarah. Dalam praktiknya, politik Kiri menghadapi sejumlah masalah – fragmentasi gerakan, kurangnya demokrasi internal dalam organisasi-organisasi Kiri, kemunculan kelas ‘birokrat merah’ atau ‘faksi managerialis’ yang oportunistik dan menjadi penghisap nilai lebih dan penindas baru di negara-negara Blok Timur, hingga sabotase politik dan boikot ekonomi dari kekuatan-kekuatan imperialis di negara-negara yang bereksperimen dengan sosialisme via jalur elektoral.

Itu semua adalah persoalan yang harus dipecahkan. Jalan penyelesaiannya tentu tidak mudah dan harus dipikirkan bersama-sama. Tetapi, mungkin dengan melihat pencapaian-pencapaian yang selama ini tertutupi (dan ditutupi) kita bisa mengambil pelajaran baik dari catatan sejarah tersebut dan dengan demikian merumuskan langkah politik gerakan ke depan secara lebih baik.

Lagipula, bukankah refleksi dan kritik internal dari dalam gerakan Kiri itu sendiri sesungguhnya merupakan pupuk penyubur bagi tumbuh dan kembangnya proyek politik sosialis itu sendiri? Yang orang lupa dari banyak oposisi anti-rezim di negara-negara Blok Timur misalnya, setidaknya di fase-fase awalnya, adalah fakta bahwa kelompok-kelompok pembangkang tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai Kiri, dan mendapatkan dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari intelektual, mahasiswa, hingga buruh.

Para militan yang berpartisipasi dalam aksi revolusioner anti rezim otoritarian birokratik di Hungaria di tahun 1956 misalnya menyatakan bahwa para elit partai telah menjadi rezim yang ‘despotik’ dan menyerukan bahwa ‘Sosialisme hanya akan berkembang dengan berlandaskan kepada demokrasi langsung’ dan ‘segenap kekuasaan haruslah diserahkan kepada komite-komite buruh di Hungaria.’ Di tahun 1968, sejumlah aktivis Kiri Polandia juga menyerukan hal serupa: mengutuk segelintir elit pemerintahan dan birokrat yang menjadi lapisan penghisap baru, mengadvokasi pemerintahan oleh dewan-dewan buruh, dan mendukung perjuangan anti-imperialisme di negara-negara Dunia Ketiga. Adam Michnik, sang aktivis Kiri Polandia yang murung itu, mendukung gerakan Kiri Baru yang menyapu dunia Barat.

Ini semua jauh dari kesan yang coba ditampilkan oleh narasi-narasi liberal dan arus utama, yang mencitrakan bahwa upaya oposisi tersebut sejatinya adalah soal menghasrati tendensi liberal dan kapitalisme. Alih-alih kapitalisme, yang diperjuangkan mereka adalah penerapan yang lebih konsisten dari cita-cita sosialisme itu sendiri. Perlu diingat, yang menjadi pendorong utama dari gerakan massa yang menumbangkan rezim-rezim negara-partai di Blok Timur adalah kekecewaan atas kesenjangan sosio-ekonomi dan pengekangan politik yang meningkat di bawah pemerintahan yang mengaku menjalankan dan mewujudkan sosialisme. Di tahun-tahun 1989-1990, banyak warga Eropa Timur yang menentang agenda liberalisasi dan privatisasi ekonomi dan mendukung kontrol pekerja secara langsung di pabrik dan sektor-sektor ekonomi lainnya – aspirasi yang sayangnya tertutupi oleh manuver-manuver politik intelektual liberal yang menghasrati mimpi-mimpi kapitalis.

Tetapi kita tahu bahwa ‘mimpi-mimpi merah’ tidak pernah benar-benar mati. Di Tiongkok tahun 1927, sekitaran satu juta aktivis revolusioner (!) menghadiri peringatan 57 tahun Komune Paris. Di tanah air, masa-masa awal kemerdekaan menjadi saksi eksperimen demokrasi langsung ala Komune Paris dengan cita rasa lokal. Lagi-lagi ini adalah berbagai contoh yang jarang dibahas. Berbagai macam gelombang protes rakyat yang terus menerus bergelora di berbagai belahan dunia di lebih dari satu dekade terakhir, setidaknya semenjak Krisis Finansial Global di tahun 2008, menunjukkan bahwa harapan tentang dunia yang lebih baik itu masih tetap ada.

Kembali ke Pankaj Mishra. Memasuki tahun-tahun akhir dari dekade 1980an, dia tersadar bahwa imajinasinya tentang Uni Soviet mungkin tidak seindah yang dibayangkan. Sejumlah rekannya, para true believers, masih percaya bahwa perestroika dan glasnost akan mereformasi sistem Soviet yang sudah lama digerogoti Stalinisme dan birokratisme itu. Mishra sendiri meragukan prediksi kamerad-kameradnya, dan di kemudian hari Mishra terbukti benar: Uni Soviet terbukti tumbang, dan yang tersisa adalah nostalgia-nostalgia tentangnya. Alih-alih internasionalisme dan solidaritas antar sesama rakyat pekerja dan bangsa-bangsa tertindas, yang kita dapati sekarang adalah globalisasi yang mengikat kita semua dalam suatu kondisi yang sama – despotisme terselubung di bawah tatanan ekonomi-politik hari ini.

Apakah ini berarti ‘akhir dari Sejarah’? Tentu tidak. Toh, rupa-rupanya konsensus ‘liberal-demokratik’ a la kapitalisme kontemporer, terlepas dari klaim dan janji-janji manisnya, tidak bisa menyenangkan semua orang, sebagaimana diakui oleh teoretikus pengasong tesis ‘akhir Sejarah’ tersebut. Yang ada, dunia semakin bangkrut dan penuh dengan masalah – mulai dari krisis iklim dan pangan, mobilisasi kekuatan-kekuatan politik reaksioner, kondisi demokrasi tanah air yang mengkhawatirkan, hingga agresi-agresi imperialis model baru. Mengatakan bahwa konsensus politik yang ada adalah final adalah sikap politik reaksioner sekaligus kemewahan yang hanya dimiliki oleh kelas yang berkuasa, yang tidak mau melihat kenyataan bahwa dunia tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Mungkin, di tengah kefrustrasian kita menghadapi persoalan-persoalan genting hari ini, ada baiknya kita kembali menengok mimpi-mimpi merah yang pernah membuat kita begitu bergairah dengan perjuangan kelas. Mungkin yang kita butuhkan sekarang adalah mimpi-mimpi merah versi baru yang lebih pas dengan keadaan kita sekarang. Dengan kata lain, imajinasi dan cita-cita politik emansipatoris yang baru.***


Iqra Anugrah adalah editor IndoProgress.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s