Women among the fishers

https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/women-among-the-fishers/

If you ask the Indonesian public who has made the biggest difference for Indonesian fishers, one name will keep coming up: Susi Pudjiastuti, Indonesia’s minister of fisheries and maritime affairs. A colourful self-made entrepreneur, Susi has gained a reputation as a maverick and a bold reformer through her policies, including cracking down on illegal foreign fishing.

But the focus on Susi neglects another group who have also made a lot of difference to the lives of Indonesian fishers: women in fishing and coastal communities. In my recent visits to fishing villages in Central Java and North Sumatra, I found that women in these communities have played a crucial role in advocating for fishers’ and women’s rights. They have improved the lives of many in their communities. This achievement is particularly commendable given the government’s lack of attention to issues affecting women in fishing communities and enduring patriarchal values in Indonesian society at large.

Indeed, women’s contributions to fishing communities often go unnoticed. According to a 2015 study conducted by Kiara, a fishers’ rights advocacy group, women contribute close to half (48 per cent) of income in fishing households across Indonesia. They also work long hours – 17 hours per day, both in fishing activities and at home. This was true for the women I interviewed – they had a major role in processing and selling fish products as well as in handling domestic chores. But as Kiara head Susan Herawati notes, “women’s work is often not recognised as real work”.

Despite facing a double burden of fishing and domestic work, women in fishing communities get involved in activism and policy advocacy in a variety of ways, including building community-led organisations and enterprises and promoting women’s rights.

In Kendal, for example, I met Sulyati, a teacher from a fishing family in the village of Gempolsewu. Since 2012, she has been organising women through a village-level women-led community business unit (KBU) called Sekar Wilujeng. “It is challenging to encourage my neighbours to get involved in community organising,” Sulyati said. She is convinced that women in her village need to organise to better promote their interests and improve their community.

While Sulyati and her neighbours are still struggling, a women’s group in Serdang Bedagai district, North Sumatra, has had a degree of success in promoting economic empowerment and independence for women in coastal communities.

I spoke to Jumiati, one of the initiators of Muara Baimbai, a community organisation and cooperative in the fishing village of Sei Nagalawan. With the support of her husband and other community members, Jumiati has been promoting community-based mangrove conservation and eco-tourism and selling local fish and mangrove food products since 2004.

In the beginning, her motivation was simple. “At that time,” she said, “I thought we needed to support our movement [to improve the livelihood of the fisherfolk] with economic strategies.”

The result has been incredible: over the past few years, residents of Sei Nagalawan have been able to generate and manage a sizeable profit from their business for the benefit of the community. Further, women have played an important role in this initiative, actively participating in the organisation and managing its business.

Another women’s and fishers’ organisation in Central Java, Puspita Bahari, focuses on rights advocacy in fishing communities. Based in Demak, Puspita Bahari promotes not only livelihood development but also gender equality and awareness of civil rights among the most marginalised in coastal and fishing communities in the district.

Puspita Bahari’s founder, Masnu’ah, told me she established the organisation to fight domestic violence and improve women’s rights in her community. “We’ve been working since 2005 and continue to expand the scope of our activities, from campaigning for the rights of women and fishers to paralegal advocacy for people with disability.” For this work, Puspita Bahari has received numerous awards and recognition within and outside Indonesia.

From fighting against domestic violence to encouraging women’s participation in social life, these groups are at the forefront of promoting women’s interests in fishing and coastal communities. While their scope of activities and areas of operation are still limited, they are making real impacts for their communities and have the potential to promote meaningful local level policy change.

For instance, Puspita Bahari has been fighting for the formal recognition of Demak-based women who engage in fishing activities. Being formally recognised as fishers, like their male counterparts, will enable them to make use of a variety of state facilities and services, as stipulated by Law 7 of 2016 on Protection and Empowerment of Fishers and Salt Miners.

By doing so, they also challenge and help dismantle dominant patriarchal understandings that fail to acknowledge women’s contributions in both fishing activities and the domestic realm.

These women’s advocacy efforts are also important because Indonesia’s dominant political discourse on women, including in the recent presidential debate, tends to treat women in a superficial or tokenistic manner.

For Sulyati, Jumiati, Masnu’ah, and many other women in fishing communities across Indonesia, the fight for the rights of women and the most marginalised still has a long way to go. But the future is not entirely bleak. Through small-scale, locally targeted activities, these women have been able to make a tangible difference in their communities.

Like many other actors in the women’s movement, they are fighting the good fight for a better life for women and a more meaningful democracy for many.

Dr Iqra Anugrah would like to thank Kiara and community members of fishing villages in Kendal, Demak, and Serdang Bedagai  for their help throughout his fieldwork.

Bagaimana Nelayan Berpolitik di Tengah Pemilu?

https://tirto.id/bagaimana-nelayan-berpolitik-di-tengah-pemilu-dj84

“Saya telah berkunjung ke seribu titik lokasi, bertemu masyarakat…. Ada kisah tentang Bapak Najib, seorang nelayan Pantai Pasir Putih di Cilamaya, Karawang. Beliau mengambil pasir untuk ditanam di hutan bakau. Beliau dipersekusi, dikriminalisasi [karena itu]. ” Demikian klaim Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto, Sandiaga Uno dalam debat pertama Pemilihan Presiden Indonesia pada 17 Februari.

Pernyataan Sandiaga dan ceritanya tentang seorang nelayan yang dikriminalisasi secara tidak adil di Karawang langsung memicu keriuhan politik.

Di luar soal benar-tidaknya cerita Sandi, hak-hak nelayan berhasil meraih perhatian publik nasional dalam sebuah forum terkemuka. Jika orang Amerika punya ‘Joe the Plumber’, perwujudan sosok wirausahawan kecil yang merugi akibat tarif pajak yang tinggi, masyarakat Indonesia sekarang memiliki ‘Najib sang Nelayan’, perwakilan dari wong cilik yang menjadi korban dari hukum yang berat sebelah.

Bagi politisi, upaya agar komunitas nelayan mendukung mereka adalah persoalan serius. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan ada hampir satu juta rumah tangga nelayan di Indonesia dan sekitar 2,3 juta nelayan di seluruh nusantara. Meski kuantitasnya terlihat kecil jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia, tetapi kelompok ini mewakili seperlima dari total populasi masyarakat pesisir dan memiliki potensi mobilisasi yang kuat. Menjelang pemilihan umum April mendatang, kedua kubu telah berusaha menggalang dukungan dari nelayan.

Ketika menjajaki komunitas nelayan di Jawa Tengah dan Sumatera Utara selama kampanye pemilu 2019, saya menemukan persoalan hak-hak nelayan, yang seringkali dipandang sebagai isu khusus, kini telah menjadi bagian dari wacana politik arus utama. Sayangnya, agensi politik nelayan masih berorientasi pada kebutuhan konsesi jangka pendek, alih-alih pada upaya mendesak perubahan kebijakan yang menguntungkan komunitas nelayan secara keseluruhan.

Dengan karakter organisasi politik yang cenderung lokal dan bersifat ad hoc semata, kelompok nelayan adalah cermin fragmentasi yang berkelanjutan di kalangan masyarakat sipil Indonesia serta keterbatasan peluang kelompok kelas bawah untuk mempengaruhi kontestasi politik.

Hak Nelayan sebagai Masalah Politik
Dalam masa jabatan pertama Jokowi, urusan maritim dan perikanan mulai mendominasi percakapan arus utama tentang politik di Indonesia. Sebagai bagian dari ambisi pembangunan Jokowi, ia membayangkan Indonesia bisa menjadi poros maritim global, yang tak lain adalah pusat utama eksplorasi sumber daya laut dan pesisir.

Ditambah dengan kebijakan nasionalis Menteri Susi, terutama dalam menindak penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing, persoalan maritim dan kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan yang rentan secara ekonomi kini tidak pernah absen dari laman berita media Indonesia.

Di sisi lain, tim kampanye Prabowo-Sandi mengajukan proposal kebijakan dengan fokus yang sangat kontras dengan kubu petahana. Dalam manifesto politik Prabowo-Sandi, daftar target yang hendak dicapai tak tangung-tanggung, antara lain: mengurangi kesenjangan antara wilayah pesisir dan pedalaman, meningkatkan anggaran nasional untuk sektor perikanan dan kelautan, menyalurkan lebih banyak skema kredit kepada nelayan, menjamin harga pasar untuk komoditas yang menguntungkan baik nelayan maupun konsumen.

Masalahnya, daftar target janji kampanye yang panjang itu tak disertai paparan tentang cara untuk mewujudkannya.

Di titik ini kita bisa sepakat bahwa persoalan hak nelayan jelas mempengaruhi pemilu 2019. Namun, kebijakan maritim dan perikanan nampaknya akan sama saja, terlepas dari siapa yang berkuasa. Larangan Menteri Susi yang kontroversial tentang penangkapan ikan dengan pukat, misalnya. Sementara para nelayan di pulau-pulau terluar Indonesia menyambut hangat larangan itu, para operator kapal pukat yang berbasis di Jawa mengkritiknya habis-habisan. Akhirnya, Susi menyerah dengan tekanan publik dan mengeluarkan moratorium penundaan larangan tersebut di wilayah Jawa.

Sandiaga Uno turut mengambil kesempatan dalam isu ini. Walaupun belum mengambil sikap yang jelas mengenai kontroversi tersebut, Sandi berjanji untuk mencari solusi tengah yang menguntungkan semua pihak.

Bagaimana Nelayan Terlibat dalam Politik?
Dari kunjungan ke Kendal dan Demak di Jawa Tengah dan Serdang Bedagai di Sumatera Utara, saya menemukan beberapa cara nelayan berpolitik, antara lain menjadi makelar yang menawarkan patronase, beraliansi dengan kandidat lokal yang kooperatif, atau mencalonkan diri dalam pemilihan lokal.

Sebuah cerita dari desa Gempolsewu di kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menggambarkan cara kerja patronase di komunitas nelayan. Saya mendapati kasus klasik di mana seorang tokoh lokal yang menjabat ketua kelompok usaha bersama (KUB) nelayan setempat berperan sebagai perantara antara warga dengan kandidat politik. Nashikin, ketua KUB ini, adalah tokoh kunci yang dapat memelihara (atau memutus) hubungan antara komunitasnya dengan politisi pencari suara.

Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tingkat nasional, komunitas Nashikin diwakili oleh Fadhloli dari partai Nasdem yang pro-Jokowi. “Saya mengapresiasi apa yang telah dia lakukan untuk kami,” kata Nashikin. Baginya, Fadhloli adalah jenis politisi langka yang rutin mengunjungi konstituennya dan berjuang untuk mereka—sebagian besar dilakukan dengan melobi pemerintah kabupaten setempat untuk memberikan fasilitas negara bagi para nelayan, seperti jaring ikan. “Ada caleg-caleg yang datang tapi setelah itu lupa (dengan kami). Makanya kami tidak akan memilih mereka lagi,” tambahnya.

Hubungan komunitas Nashikin dengan anggota parlemen mereka mencerminkan pola yang jamak terjadi dalam dinamika pemilu lokal di Indonesia, di mana merekrut jaringan lokal dan makelar yang tepat adalah perkara serius.

Komunitas nelayan lainnya menempuh strategi yang berbeda. Aliansi dengan kandidat lokal berfungsi sebagai strategi untuk menagih imbalan yang sejalan dengan kepentingan nelayan. Sugeng, ketua kelompok nelayan lokal lain di Kendal bernama Mina Agung Sejahtera, mengatakan kepada saya bahwa “Pilpres tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah memiliki perwakilan di tingkat lokal.”

Untuk pemilihan legislatif lokal mendatang, Sugeng memberikan dukungannya untuk Mifta Reza Noto Prayitno, seorang anggota parlemen dari partai milik Prabowo, Gerindra, yang memenangkan kursi DPRD dari wilayah Jawa Tengah pada Pileg 2014 lalu. “Karena dia mendukung kepentingan kami. Dia bahkan menggunakan uangnya sendiri untuk mengunjungi kami,” kata Sugeng.

Pendapat serupa dilontarkan Masnu’ah, pemimpin Puspita Bahari, organisasi perempuan yang bekerja di komunitas nelayan di kabupaten Demak. Dia berkata, “Partai politik tidak terlalu penting bagi saya… Sekarang saya lebih melihat kandidatnya.”

Selangkah lebih maju, beberapa nelayan mencalonkan diri dan ikut bertarung di pemilihan lokal. Sulyati, seorang guru dari keluarga nelayan di Gempolsewu, Kendal, mencoba peruntungannya dan maju di pemilihan anggota parlemen daerah pada 2014 dengan tiket dari Gerindra. Meski hampir memenangkan kursi saat itu, dia memutuskan tidak nyaleg tahun ini. “Awalnya saya menyalonkan diri karena dorongan teman-teman saya. Sekarang saya memilih untuk fokus pada kerja-kerja di komunitas saya, ”katanya.

Pemimpin komunitas sekaligus nelayan dari Kabupaten Serdang Bedagai di Sumatera Utara, Sutrisno, juga mencalonkan diri untuk kursi di parlemen tingkat kabupaten, di bawah payung partai PKB yang pro-Jokowi. “Saya pikir penting untuk memiliki seseorang yang dapat menjaga kepentingan kita di tingkat lokal,” ujar Sutrisno.

Lewat aliansi dengan patron politik seperti anggota parlemen, mereka dapat langsung menuai hasil. Sementara, bertarung langsung dalam pemilihan lokal lebih berisiko. Kandidat yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan bisa kalah dan menyurutkan semangat pendukungnya. Namun demikian, Sulyati dan Sutrisno cukup puas dengan pengalaman pemilihan mereka. Walau kalah, pengalaman itu tidak merusak semangat Sulyati.

Sutrisno cukup percaya diri dengan prospeknya untuk 2019. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia sudah memiliki cukup suara untuk memperoleh kursi. Akan tetapi, sebagai aktivis hak-hak nelayan, dia juga membutuhkan dukungan dari para nelayan. Saya bertanya apa yang akan dia lakukan begitu dia terpilih. “Salah satu hal yang akan saya perjuangkan adalah memastikan para nelayan dapat menerima semua subsidi, fasilitas, dan program (yang berhak mereka dapatkan),” jawab Sutrisno. Apa dia terlalu optimis? Kita baru akan mengetahuinya setelah pemilu nanti.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Mobilisasi Politik Nelayan?
Para nelayan dan sekutu mereka memiliki pandangan dan strategi berbeda terkait pemilihan. Beberapa mendukung pemerintah, yang lain mendukung oposisi. Banyak yang berpendapat bahwa politik nasional masih penting, tetapi bagi sebagian yang lain, kontestasi lokal justru lebih berperan dalam membentuk kehidupan mereka. Kekuatan gerakan para nelayan terletak pada dua senjata utama: mobilisasi massa dan pemungutan suara.

Konsisten dengan hasil studi akademis tentang gerakan kelas bawah, kekuatan mobilisasi nelayan beserta aksi disruptifnya—mulai dari protes massal hingga penghentian kapal pukat ilegal di laut—kerap berhasil membuat elite menyerah pada tuntutan mereka. Keberhasilan ini biasanya diikuti sejumlah perubahan pada kebijakan lokal perubahan dan penguatan demokrasi lokal.

Namun, di tingkat nasional, para nelayan terbagi-bagi berdasarkan afiliasi organisasi masing-masing. Ada lima serikat nelayan. Empat serikat nelayan adalah serikat independen, yaitu Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Federasi Serikat Nelayan Nusantara (FSNN), dan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI). Sedangkan, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), merupakan organisasi korporatis bentukan Orde Baru untuk menaungi nelayan.

Dinamika pemilu belakangan semakin memperuncing perpecahan ini. “Suara nelayan memang terfragmentasi,” ujar Parid Ridwanuddin, aktivis KIARA, sebuah organisasi masyarakat sipil yang memperjuangkan hak-hak masyarakat pesisir dan nelayan. “Mendekati pemilihan ini,” ia menambahkan, “suara mereka juga terbagi antara Jokowi dan Prabowo.” Fragmentasi semacam itu melemahkan kekuatan politik mereka. Walhasil, daya tawar mereka untuk mengajukan alternatif kebijakan nasional di isu kelautan dan perikanan—membatasi ekspansi modal besar di wilayah pesisir atau membendung kekuatan jejaring patronase lokal yang ada—akhirnya pun jadi terbatas.

Namun, di luar keterbatasan mereka, keterlibatan politik nelayan penting untuk penguatan demokrasi di Indonesia. Mereka adalah wujud partisipasi baru dari kelompok kelas bawah dan terpinggirkan. Keterlibatan semacam itu penting untuk mengarahkan kembali debat politik ke masalah nyata, yang berdampak langsung pada mata pencaharian masyarakat. Dengan menjauh dari politik populis yang mengeksploitasi agama dan membicarakan masalah aktual, seperti kesenjangan ekonomi dan konflik antar kelas, politisi mau tak mau dituntut oleh mereka untuk memberikan solusi konkret.

Catatan penulis: Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada KIARA dan anggota masyarakat desa-desa nelayan di Kendal, Demak, dan Serdang atas bantuan mereka selama kerja lapangan saya.

——————

Sebelum diterjemahkan oleh Levriana Yustriani, tulisan ini terbit dalam bahasa Inggris di New Mandala dengan judul “Fishing for votes in Indonesia”. Penulisnya, Iqra Anugrah, adalah research associate pada Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) di Jakarta Pusat. Selama Pemilu 2019, ia menjadi New Mandala Indonesia Correspondent Fellow yang menulis isu lingkungan dan sumber daya alam.

Fishing for votes in Indonesia

https://www.newmandala.org/fishing-for-votes-in-indonesia/

“I’ve visited around a thousand communities, meeting people…[then] I encountered the story of Pak Najib, a fisher living in Pasir Putih Beach in Cilamaya, Karawang. He extracted sand to plant in mangrove forest. He was persecuted, criminalised [because of that].” So claimed Prabowo Subianto’s vice-presidential candidate Sandiaga Uno in the first debate of Indonesia’s presidential election on 17 February. Sandiaga’s statement soon created a political spat regarding whether Pak Najib the fisher was indeed unfairly persecuted. Others, such as President Joko Widodo (Jokowi)’s campaign team,questioned whether Sandi really did visit a thousand communities.

But what is certain is that fishers’ rights have received national attention in an unusually prominent forum in the televised election debate. If the Americans have Joe the Plumber, the personification of small business owners hurt by high tax rates, the Indonesians now have Najib the Fisher, the representation of unjustly persecuted wong cilik (little people).

For politicians, keeping fishing communities on side is serious business. The Central Statistics Agency (BPS) estimates that Indonesia is home to close to a million fishing households, with around 2.3 million fishers across the country.This might look miniscule compared to Indonesia’s total population, but this group represents a fifth of the total population of coastal communities. Fisherfolk have strong mobilisational potential, too, as shown in the recent waves of protests over fishing policies that have divided fisherfolk.

As April’s presidential and legislative elections approach, both camps have tried to woo support from fisherfolk. Recently, Jokowi met representatives from various fishers’ groups across Java who asked him to reconsider the recent decision to ban trawl fishing by his uncompromising fisheries and maritime affairs minister, Susi Pudjiastuti. Representing the opposition camp, Sandiaga has made numerous visits to fishing villages. He promised that should he and Prabowo get elected, they will fight hard for the prosperity and the ease of doing business for them.

In my visits to fishing communities in Central Java and North Sumatra during this election campaign, I have found that fishers’ rights, usually a niche issue, have become a part of the mainstream political discourse nationally and locally. To be sure, fishers’ political agency is still primarily excercised in gaining short-term concessions from a variety of political patrons, rather than uniting to press for policy change which benefits fishing communities as a whole. The mostly localised and ad hoc nature of fishers’ political organisation reflects the continuing fragmentation of Indonesian civil society, and the limited avenues that lower-class groups have in influencing politics. But the lesson of the 2019 campaign is that as long as the candidates think their votes matter, fishing communities can still put the policies affecting their livelihoods on the national political agenda.

Fishers’ rights as a political issue

In Jokowi’s first term, maritime and fisheries affairs have had an unprecedented prominence in the mainstream conversation on politics and policy in Indonesia. As a part of his developmentalist ambition, he envisions Indonesia as the next global maritime axis—essentially, a major hub for maritime economy and the exploration of marine and coastal resources. This, coupled with the colourful minister Susi’s nationalist policies such as cracking down on illegal fishing by foreign boats, have turned maritime issues and the lives of coastal and fishing communities into a staple of Indonesian media.

This rising popularity of maritime nationalism—a long-standing feature of Indonesian nationalism—involves a vague sense of solidarity with fisherfolk as providers of food who are often marginalised and left behind in development. Indeed, Susi claims that her war on illegal fishing has increased fishery production and thereby improved the livelihood of Indonesian fishers.

The Prabowo-Sandi campaign has responded accordingly with their own maritime and fishery policy proposals. As stated in their campaign and policy manifesto, they aim to reduce inequality between coastal and inland regions, increase the national budget for the fishery and maritime sectors, channel more credit schemes to fishers, promote infrastructure development as well as integrated economic centres for coastal and small island communities, and set up a market price for commodities that benefit both fishers and consumers. Needless to say, this looks like a lot to achieve. Lacking is the how to realise these campaign promises.

Policy-wise, the governance of maritime and fisheries affairs will most likely remain the same regardless of who is in power. Take the example of the controversy over Minsiter Susi’s ban on trawl fishing. While fishers in Indonesia’s outer islands welcomed the ban, the operators of Java-based trawlers criticised it. This led to a series of protests for and against the ban from both groups.

Eventually, responding to this controversy, Susi succumbed to the pressure by issuing a moratorium on the ban. Sandiaga Uno also made a move on this issue: while he has not taken any specific stance on the trawl fishing controversy, he promised to come up with a “win-win” solution for the fishers’ problems.

How fishers engage in politics

In Indonesia’s competitive electoral landscape, a voting bloc vocal as fisherfolk can become a gamechanger. From my visits to Kendal and Demak districts in Central Java and Serdang Bedagai district in North Sumatra, I found that there are multiple ways fishers influence politics, includingbrokering patronage, establishing alliances with supportive local candidates, or running directly as candidates in local elections.

What stands out, though, is that fishing communities are preoccupied in their political engagement with local politics and parliamentary candidates, seeking political representation and policy concessions at the district or pronvicial level. What we’re yet to see this election is fishing communities acting as a unified, coherent interest group capable of lobbying for policies that suit their interests.

A story from the Central Java village of Gempolsewu in Kendal district, illustrates the locally-focused nature of fishing communities’ political engagement. There I met a classic case of a local broker—the chairperson of a local fishers’ community business unit (KUB)—who serves as the middleman between his fellow neighbours and political candidates. Nashikin, the chairperson of this KUB, is the key figure empowered to maintain or cut ties between his community and vote-seeking politicians.

Nashikin’s community is represented in the national parliament by Fadhloli,  from the pro-Jokowi Nasdem party. “I appreciated what he has done for us,” Nashikin said. For him, the MP is a rare breed of politician who visits his voters regularly and fights for them—mostly by lobbying the local district government to deliver state facilities and other resources for the fishers, such as fishing nets. “There are those who came and then forgot us, and we didn’t vote for them anymore,” he added. Their relationship with their MP is emblematic of the broader pattern of local electoral dynamics in Indonesia, where recruiting the right kind of local networks and brokers matters to politicians—and where voters value the ability of MPs to deliver concrete favours for their constituents.

Other fishing communities opt for a different strategy by establishing alliances with local candidates in exchange for their for fisher interests. Sugeng, the chairperson of another local fishers’ group in Kendal called Mina Agung Sejahtera, told me that “the pilpres (presidential election) doesn’t really matter. What matters more is to have some representation at the local level.”

For the upcoming local legislative elections, Sugeng is throwing his support behind Mifta Reza Noto Prayitno, an incumbent MP for the Central Java provincial parliament from Prabowo Subianto’s Gerindra party. Sugeng is encouraging other fishers to do the same. “This is because he supports our interests. He even used his own money to visit us,” he added. A similar view is also echoed by Masnu’ah, the leader of Puspita Bahari, a women’s organisation working in fishing communities in Demak district. She said, “I no longer judge the political parties that [the candidates] represent; now I assess the candidates directly.” These fishers’ groups support local candidates so that they can maintain their freedom of operation, and push their agendas on the local authorities further.

A few fishers take one step further, and stand themselves as candidates in local elections. Sulyati, a teacher from a fishing family in Gempolsewu, Kendal, tried her luck by standing for Kendal district’s local parliament back 2014, on the Gerindra ticket. She almost won a seat then, but she decided not to run this time. “I gave it a shot mostly because my friends encouraged me to run. Now I choose to focus on my community works,” she said. Another fisher-cum-community leader from Serdang Bedagai district in North Sumatra, Sutrisno, is also running for a seat in the district parliament, this time under the pro-Jokowi PKB party’s ticket. “I think it is important to have someone who can guard our interests at the local level,” he argued. In his view, mass pressure such as protests is necessary, but not enough.

Both of these newcomer politicians from fishing background are also well-connected to their electoral bases: Sulyati is a well-known community organiser and heads a village-level women’s group, Sekar Wilujeng, whereas Sutrisno is the chairperson of the North Sumatran Fishers’ Alliance (ANSU), a province-wide network of fishers’ organisations. Again, while this strategy is relatively new for the fishers, other lower-class constituencies such as peasantunions and trade unions have been utilising it in a number of local elections.

The “passive victim” victim of fishers portrayed by some politicians, then, doesn’t stack up. Indeed, the fishers now hold some good political cards. The question is, how would they play their hand?

By forming alliances with political patrons such as parliamentarians, one can immediately see the results. But contesting directly in local elections is more risky. A fisher candidate can lose, and demoralise his or her supporters. Nevertheless, Sulyati and Sutrisno are quite happy with their electoral experience. Sulyati lost, but that experience does not undermine her spirit, whereas Sutrisno is pretty confident with his prospects in 2019. He told me that he already has enough votes to win a seat, but as a fishers’ rights activist he also needs the support from the fishers too. I asked what he would do once he is elected. He said, “one of the things that I will fight for is to ensure that the fishers can receive all the subsidies, facilities, and programs (that they are entitled to).” Is he being too optimistic? We, and Sutrisno’s supporters, will only find out after the elections.

What fisheries tell us about political mobilisation

It is clear that this year’s presidential and legislative elections have influenced the way fishers and their allies advocate for their rights. They have different views and strategies regarding the elections. Some support the government, others support the opposition; many argue that national politics still matters, but for some others it is local contestation that shapes their lives. The strength of the fishers’ movement lies in their two weapons: mass mobilisation and voting. This means their power will be influential during either election times or occasional policy crises or deadlocks.

Consistent with academic studies on lower-class movements in Indonesia, it is the fishers’ mobilisational power and disruptive actions—from mass protests to stopping illegal trawl boats in the seas—that often trigger elites to concede to their demands, leading to a series of local policy changes and the deepening of a form of local democracy that, while limited, works for those who participate in it. The fishers’ groups that I encountered in the field have done a lot of meaningful work in their respective communities, from promoting women’s rights and economic empowerment to managing a community-based eco-tourism business in mangrove forests.

However, on the national level, the fisherfolk are organisationally fragmented. There are five fishers’ unions: four independent ones, namely the Association of Indonesian Traditional Fishers (KNTI), the Indonesian Fishers’ Union (SNI), the Federation of Fishers’ Unions across the Archipelago (FSNN), and the Sisterhood of Indonesian Fisher Women (PPNI) and a legacy union, the All-Indonesia Fishers’ Association (HNSI), which was formed as a corporatist organisation during the New Order era. At the local level, there are hundreds of fishers’ organisations across the country.

Recent electoral dynamics have further deepened this division. “It is fair to say that the fishers are fragmented,” according to Parid Ridwanuddin, an activist from KIARA, a civil society organisation (CSO) which promotes the rights of coastal and fishing communities. “Approaching these elections,” he added, “their votes are also divided between Jokowi and Prabowo.” Such fragmentation reduces their political power.

Moreover, the fishers are also divided on policy: witness the responses to the trawl fishing controversy, indicating the regional diversity and differing interests among fishing communities. The extent to which they can offer a major alternative national fishing policy (say, limiting the expansion of industrialised fishing enterprises  and big tourism businesses in coastal areas), or overcome the existing localised patronage networks, remains limited for now.

But regardless of their limitations, fishers’ political engagement is a good sign for Indonesia’s democracy because it represents the renewed participation of lower-class and marginalised groups in the post-authoritarian context. Such engagement matters, because it helps to reorient political debates towards the real issues affecting people’s livelihoods, moving away from the religious populism that obscures the actual problems—such as economic inequality and class tensions—that Indonesia must demand their politicians provide solutions to.

Acknowledgement: I would like to thank KIARA and community members of fishing villages in Kendal, Demak, and Serdang Bedagai for their help throughout my fieldwork.

Cek Fakta : Apakah peningkatan biaya pembebasan lahan akan menghilangkan konflik-konflik agraria?

https://theconversation.com/cek-fakta-apakah-peningkatan-biaya-pembebasan-lahan-akan-menghilangkan-konflik-konflik-agraria-112426

Dalam debat presiden tahap dua beberapa waktu yang lalu, calon presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo mengatakan bahwa peningkatan biaya pembebasan lahan akan membuat konflik-konflik tidak terjadi lagi.

Dalam salinan transkrip debat kemarin, Jokowi mengatakan jika biaya pembebasan lahan ditingkatkan menjadi 4-5% dari total anggaran proyek infrastruktur dari sebelumnya 2-3% maka konflik-konflik yang terkait pembebasan lahan bisa dihindari.

Apakah benar demikian?

Respons dari pihak Jokowi

The Conversation menghubungi kubu Jokowi untuk memberikan penjelasan di balik pernyataannya. Mereka hanya mengatakan bahwa pernyataan besaran persentase biaya pembebasan lahan yang disampaikan Jokowi sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan no. 13 tahun 2013 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan. Namun, tidak ada penjelasan terkait klaim Jokowi yang menyatakan biaya pembebasan lahan yang semakin besar akan menghilangkan konflik.

The Conversation menghubungi Iqra Anugrah, peneliti agraria di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) untuk menguji kebenaran klaim Jokowi tersebut.

Analisis

Meningkatkan uang kompensasi pembebasan lahan dari 2-3% total biaya pembangunan menjadi 3-4% bisa membantu pemerintah dalam memberikan uang ganti rugi yang lebih besar jumlahnya bagi masyarakat yang terkena dampak pembebasan lahan.

Tetapi, menganggap bahwa kenaikan tersebut dapat menghapuskan konflik-konflik merupakan suatu kenaifan. Peningkatan besaran kompensasi pembebasan lahan tidak akan serta merta menyelesaikan konflik agraria di Indonesia.

Mengapa demikian?

Alasan pertama karena persoalan konflik agraria antara masyarakat dan pemerintah atau korporasi lebih pelik dari sekadar konflik mengenai besaran uang kompensasi pembebasan lahan.

Betul bahwa pihak masyarakat yang terkena dampak pembebasan lahan sering meributkan soal kompensasi finansial, tapi akar masalahnya bukan hanya soal besaran, melainkan juga persepsi bahwa pemerintah cenderung menakar harga tanah warga secara rendah. Penawaran pemerintah yang terlalu rendah tersebut dianggap kurang adil bagi banyak komunitas. Hal ini diperparah dengan mekanisme pembebasan lahan yang tidak melibatkan masyarakat dan bertele-tele.

Susunan tim ad hoc yang melakukan kajian atas keberatan rencana pembebasan lahan dan pembangunan yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 2 Tahun 2012 misalnya masih belum mengikutsertakan unsur-unsur dari masyarakat yang akan terkena dampak proyek pembangunan tersebut.

Proses konsultasi dan eksekusi dalam suatu upaya pembebasan lahan juga tidak sesederhana dan semudah yang dibayangkan. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan agenda pembebasan lahan, seringkali banyak kepentingan-kepentingan terselubung yang bermain, misalnya kepentingan calo tanah lokal.

Tanpa adanya perubahan persepsi dan mekanisme pembebasan lahan yang lebih baik, maka proses pembebasan lahan akan selalu diwarnai konflik, meskipun besaran kompensasinya bertambah.

Alasan yang kedua, sifat konflik agraria yang ada di Indonesia menyebabkan kenaikan besaran kompensasi tidak akan secara otomatis menyelesaikan konflik-konflik tersebut.

Konflik agraria di Indonesia bukan hanya seputar persoalan besaran kompensasi dan ganti rugi, tetapi juga soal perebutan ruang hidup antara masyarakat dengan negara dan korporasi yang sering terjadi dalam relasi politis dan sosio-ekonomi yang timpang. Relasi yang timpang ini terjadi karena kekuatan politik dan dana baik pemerintah negara maupun perusahaan yang lebih kuat dibandingkan masyarakat.

Dengan kata lain, konflik agraria pada dasarnya selalu bersifat struktural. Hal ini menjelaskan mengapa konflik agraria di Indonesia jamak terjadi dan besar kemungkinan akan terus berlanjut ke depannya.

Data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menunjukkan bahwa selama empat tahun pemerintahan Jokowi, ada sekitar 1.769 konflik agraria yang meletus. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan masa pemerintahan sebelum Jokowi. Selama 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, tercatat ada 1.520 konflik agraria terjadi).

Keberadaan konflik-konflik agraria di Indonesia yang bersifat struktural ini diperparah dengan ekspansi investasi skala besar oleh pemerintahan Jokowi di sejumlah sektor seperti perkebunan, pertanian, dan infrastruktur yang mengikis ruang hidup masyarakat.

Sayangnya, arah kebijakan pembangunan pemerintahan Jokowi justru cenderung memperluas dan memperdalam konflik struktural yang ada.

Kebijakan pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, misalnya, memiliki potensi untuk semakin meningkatkan konflik agraria yang ada.

Singkat kata, kenaikan kompensasi biaya pembebasan lahan menjadi sebesar 4-5% tidak akan menghilangkan konflik-konflik yang sudah mengakar di masyarakat. Pemerintah butuh terobosan kebijakan untuk menyelesaikan konflik yang ada. Beberapa contoh yang bisa dilakukan adalah penetapan tim independen untuk menentukan harga ganti rugi tanah dengan melibatkan masyarakat. Selain itu juga dapat dikembangkan paket kompensasi yang menyediakan jaminan pekerjaan dan perumahan bagi masyarakat pedesaan dan pemberian biaya ganti rugi yang adil bagi lahan pertanian produktif. – Iqra Anugrah

Penelaahan sejawat tertutup (blind review)

Saya sepakat dengan penulis bahwa peningkatan kompensasi lahan menjadi 4-5% tidak akan menghilangkan konflik-konflik agraria yang sudah mengakar di masyarakat. Bagi masyarakat, lahan merupakan salah satu bentuk sumber mata pencaharian. Menurut filsuf dan ekonom Amartya Sen, kehilangan hak terhadap lahan merupakan salah satu faktor penyebab kemiskinan.

Keterikatan masyarakat terhadap lahan tidak hanya sebatas sebagai aset ekonomi saja. Bagi masyarakat yang hanya memiliki sebidang sawah berukuran kecil misalnya, nilai lahannya tidak hanya sebatas seberapa besar sawah itu menghasilkan, tetapi lahan sawah itu juga memberikan rasa aman karena mereka tidak akan kekurangan beras. Lahan juga memberikan keterikatan sosial bagi masyarakat. Jika seseorang harus pindah karena lahannya diambil alih, ia kemungkinan besar akan merasakan ketidakpastian kondisi sosial di tempat yang baru.

Lebih jauh, masyarakat juga juga memiliki keterikatan identitas dengan lahan yang mereka tinggali. Jika sebuah desa harus ditenggelamkan untuk pembangunan waduk misalnya, maka masyarakat desa tersebut akan kehilangan identitas kampung halaman yang sudah turun temurun mereka tempati. Bagi masyarakat tertentu, lahan bahkan bisa memiliki keterikatan spiritual seperti tempat yang dikeramatkan sehingga tidak mudah digantikan dengan uang/material. Kasus makam Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta Utara merupakan contoh nyata bentuk keterikatan spritual terhadap lahan. – Chairil Abdini


The Conversation mengecek kebenaran klaim dan pernyataan calon presiden menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2019. Pernyataan mereka dianalisis oleh para ahli di bidangnya. Analisis kemudian diberikan ke ahli lainnya untuk ditelaah. Telaah dilakukan tanpa mengetahui siapa penulisnya (blind review).

Indonesia: policy missing in talk of politics

http://www.lowyinterpreter.org/the-interpreter/indonesia-policy-missing-talk-politics

Indonesia’s second presidential debate might be a source of amusement for many Indonesian voters, thanks to the colourful exchange between the incumbent Joko Widodo (Jokowi) and the contender Prabowo Subianto. Analyses, fact-checks, and memes referring to and criticising the candidates’ debating styles and facial expressions quickly flooded the airways post-debate on Sunday.

But such a debate-turn-banter reveals a bigger problem: the lack of policy details to address structural socio-ecological issues.

We should assess the candidates by looking at their commitment to promoting more equitable and just development, human rights, and democratic processes amidst massive capital expansion in infrastructure and extractive sectors, and move away from the blind obsession with economic growth.

The debate kicked off with the session on infrastructure. Jokowi boasted his record in infrastructural development and highlighted the number of new highways, airports, and ports that his administration has built. Attempting to score some points, Prabowo criticised Jokowi’s ambition by pointing out the lack of feasibility study, cost efficiency, and consultation with local communities. But Prabowo failed to specify how his infrastructural policy will address the said problems. There was no discussion on how recent infrastructural initiatives have accelerated land conflicts between local communities and state and corporate authorities.

The second part, covering energy and food policy, posed some tough questions on the impact of the fourth industrial revolution and oil palm plantation on rural smallholders and the environment. Jokowi offered an overly optimistic view, arguing that technological innovations such as farming apps have created a new marketplace where peasants and consumers can partake in agricultural commodity trading. Prabowo, interestingly, cautioned against such a view. But both neglected to consider the gender perspective: what would be the best way to integrate rural technologies without putting women who work in agriculture out of jobs?

Both candidates made an even more blatant mistake when answering the question on how to address the negative impacts of oil palm industry. They tried to outperform each other in showing their commitments to oil palm-based biofuels and other forms of renewable energy. But do not be tricked: biofuel business might exacerbate existing rural inequalities in the context of Indonesia’s weak rule of law.

The third part of the debate raised a classic issue in Indonesian politics: the commitment toward environmental protection and agrarian reform. Prabowo emphasised law enforcement, whereas Jokowi claimed that he had effectively addressed illegal logging and forest fire, a claim disputedby many in civil society. But they missed the real problem here: Indonesia has a notoriously lax process for obtaining permission for corporations to operate in rural areas. Such a problem breeds corruption and unethical corporate practices.

They also made a blunder in conceptualising agrarian reform. Jokowi equated agrarian reform with land-title legalisation. But the two are different. Agrarian reform is more than just legalising land title, it is an attempt to redistribute landholdings and other related rural assets as well as solving land-grabbing cases in a comprehensive manner. Prabowo questioned whether Jokowi’s current agrarian policy will address the issue of lack of land availability for the younger generation, but his proposed solution was vague: a return to the “article 33 of the constitution”, which gives a legal grounding for state management of land, water, and natural resources. Did he want to promote the ownership of land resources by state-owned corporations, or something else?

During this session, nobody talked about the prospect of communal ownership and communal management of land and rural resources, a possible solution for the many agrarian problems that Indonesians face.

Lastly, in the final session, both candidates asked each other questions. A major point deserves closer attention here: their views on maritime development. Neither Jokowi nor Prabowo talked about the destructive impacts of capital expansion through trawl fishing, infrastructure projects, and tourism on coastal and fishing communities, despite their claims as the champions of the fisherfolks. It was one of the rare occasions where the livelihood of fishers received national attention, but the debate still overlooked the root cause of the problem.

There is also a glaring omission here: neither of them admitted their connection to extractive and mining industries. A recent study from the Mining Advocacy Network (JATAM) shows that a large proportion of the candidates’ campaign financing comes from big mining and energy companies. One does not have to be conspiratorial to see that the interests of extractive businesses can clearly influence the direction of their future policies – at the expense of the interests of rural citizens.

What to make of this last debate then? We can expect that policies concerning infrastructure and rural development will remain largely the same.

But hope should not be lost. If marginalised rural citizens and their allies in civil society will continue their fight, they can, at the very least, serve as the watchdog for the next government’s environmental and natural resource policies.

Iqra Anugrah is a New Mandala Indonesia Correspondent Fellow. He is also a Research Associate at the Institute for Economic and Social Research, Education, and Information (LP3ES) in Jakarta, Indonesia. He holds a PhD in Political Science and Southeast Asian Studies from Northern Illinois University.

Relevankah Janji & Program Agraria Kedua Capres?

https://tirto.id/relevankah-janji-amp-program-agraria-kedua-capres-dgLV

Pilpres kali ini kembali diwarnai oleh perdebatan dan saling klaim seputar siapa calon presiden yang paling peduli dengan kehidupan wong cilik pedesaan—petani, nelayan, dan segenap masyarakat miskin desa lainnya. Baik Jokowi, capres petahana, maupun Prabowo, capres penantang, sama-sama mencitrakan diri sebagai pemimpin yang pro-kepentingan petani.

Benarkah demikian?

Observasi yang lebih cermat akan menunjukkan bahwa retorika dari kedua capres jauh panggang dari api. Menjelang debat capres kedua pada 17 Februari nanti yang fokus kepada isu-isu energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastuktur, kita perlu melihat tawaran kebijakan agraria dari kedua capres.

Perlu diingat bahwa agraria bukan sekedar persoalan “pertanahan”, melainkan perkara ruang hidup bagi para produsen langsung (direct producers) komoditas pedesaan yaitu buruh tani, petani kecil, petani menengah yang mengalami kerentanan ekonomi, dan masyarakat miskin desa yang bergantung kepada sumber daya pedesaan seperti tanah, ruang, lingkungan, dan berbagai ikatan sosial yang melekat kepada segenap sumber daya tersebut.

Sebelum mengevaluasi proposal kebijakan dari kedua capres, kita perlu lebih seksama melihat kondisi agraria Indonesia. Dalam konteks persoalan agraria, kedua capres sama-sama menghadapi tantangan yang akut dan bersifat struktural: tiga dekade pembangunan desa yang otoritarian selama Orde Baru dan dua dekade ekspansi kepentingan pasar di daerah pedesaan di masa Reformasi. Selama lima puluh tahun itu, persoalan klasik di desa tetap berlangsung: kemiskinan, kesenjangan sosio-ekonomi yang terus meningkat, perampasan lahan dan ruang hidup, serta keterbatasan ruang politik bagi warga desa.

Rekam Jejak Kebijakan Jokowi

Dalam konteks pasca-otoritarian, setidaknya ada lima masalah agraria yang mendesak untuk segera ditanggapi, yaitu 1) ketimpangan struktur penguasaan tanah dan sumber daya pedesaan, 2) investasi skala besar oleh korporasi dan negara di sektor pertanian dan perkebunan yang merampas ruang hidup rakyat, 3) kesenjangan yang terus meningkat di dalam desa dan antara desa dengan kota, 4) instabilitas harga komoditas pertanian, dan 5) penyempitan ruang demokrasi bagi petani dan rakyat pedesaan.

Lima persoalan tersebut bukanlah klaim yang mengada-ada. Sudah banyak berbagai data dan kajian yang mengonfirmasi betapa nyata dan peliknya lima tantangan tersebut.

Sejumlah masalah agraria akut yang kita hadapi saat ini adalah buah dari perubahan struktural di sektor agraria selama beberapa dekade terakhir. Sebagai contoh, dalam kurun waktu 50 tahun (1963-2003) jumlah petani gurem—mereka yang memiliki tanah kurang dari setengah hektar—bertambah dari 44% ke 51%.

Kemudian, investasi skala besar oleh pihak swasta dan negara di area pertanian dan perkebunan terus meningkat. Selama kurun waktu 12 tahun (2000-2012) saja, para investor telah berhasil menguasai 9.5 juta hektar tanah di Indonesia, sebuah angka yang amat fantastis. Salah satu dampak utama dari ekspansi kapital dan kepentingan pasar ke daerah pedesaan ini adalah naiknya angka konflik agraria antara masyarakat dan kepentingan negara dan korporasi di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, konflik struktural dan kesenjangan yang bersifat terbuka bukanlah satu-satunya masalah. Kesenjangan sosio-ekonomi di desa-desa dan antara kota dan desa, yang berpotensi menimbulkan sejumlah masalah, juga semakin meningkat. Kondisi tersebut juga diperparah oleh ketidakstabilan harga komoditas pertanian, mulai dari komoditas pangan seperti beras hingga komoditas ekspor seperti karet. Banyak warga desa adalah konsumen alih-alih produsen beras. Dalam perbincangan dengan keluarga tani yang saya temui ketika melakukan riset lapangan, mereka juga mengeluhkan naiknya harga ongkos produksi beras dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Masalah lain yang juga tak kalah mengkhawatirkan adalah penyempitan ruang demokrasi bagi petani dan rakyat pedesaan. Semakin tersedianya saluran partisipasi politik formal dan meningkatnya mobilisasi massa oleh para petani dan pegiat gerakan agraria pasca-Reformasi juga dibarengi oleh masifnya upaya kriminalisasi dan intimidasi kepada rakyat pedesaan dan aktivis agraria dengan sejumlah dalih dan fitnah.


Melalui perspektif inilah tawaran kebijakan dari masing-masing capres seharusnya bisa dievaluasi. Dengan kata lain, kita harus lebih kritis menguliti jargon-jargon nasionalistis dan populis dari kedua kubu capres dan menilai sejauh mana solusi yang mereka tawarkan akan menyasar lima persoalan tersebut.

Kita mulai dari kubu petahana. Jejak rekam administrasi Jokowi dalam menangani persoalan agraria dalam periode pertamanya boleh dibilang mengecewakan. Dukungan dan antusiasme yang begitu masif dari elemen-elemen masyarakat sipil selama proses pencalonan dan di masa-masa awal kepresidenannya gagal mendorong Jokowi untuk melawan kepentingan elit-elit oligarkis di sektor agraria dan perkebunan, serta mempromosikan kebijakan-kebijakan agraria yang lebih progresif.

Dalam banyak hal, kebijakan agraria Jokowi sedikit banyak hanya meneruskan kebijakan agraria Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terlampau fokus kepada upaya sertifikasi legal atas tanah-tanah rakyat (untuk kebijakan sertifikasi tanah di masa kepresidenan SBY, lihat misalnya disertasi ini). Dalam lima tahun kepresidenannya, Jokowi menggunakan tiga instrumen kebijakan untuk mengatasi persoalan agraria, yaitu sertifikasi tanah, perhutanan sosial, dan dana desa.

Repotnya, ada sejumlah masalah dengan ketiga instrumen kebijakan tersebut. Pertama, sertifikasi tanah memang memberi kepastian hukum tentang kepemilikan tanah bagi banyak rumah tangga tani, tetapi sertifikasi tanah juga berpontensi untuk membuka jalan bagi komodifikasi tanah—proses transaksi jual-beli tanah yang cenderung menguntungkan korporasi dan negara dan kemudian melemahkan posisi petani dan masyarakat pedesaan.

Kedua, skema kebijakan sertifikasi tanah dan perhutanan sosial juga tidak menyasar salah satu akar persoalan dari permasalahan agraria di Indonesia, yaitu proses perampasan lahan oleh pihak negara dan swasta dengan dalih “kepentingan umum” dan “konservasi” yang telah berlangsung sejak dekade 1970-an.

Ketiga, sebagaimana telah dibahas oleh Muhtar Habibi dalam artikelnya di Tirtobaru-baru ini, dana desa yang digadang-gadang dapat mengatasi persoalan kemiskinan pedesaan nyatanya rawan dimanipulasi oleh segelintir elit desa demi kepentingan golongannya saja.

Kemudian, pemerintahan Jokowi juga tidak menunjukkan itikad dan usaha yang jelas untuk menekan laju investasi skala besar terutama di sektor-sektor ekstraktif seperti perkebunan dan pertambangan yang hanya menguntungkan segelintir elit serta dan menimbulkan dampak sosio-ekologis negatif yang begitu besar bagi masyarakat.

Pemerintahan Jokowi pun tidak mencegah upaya-upaya kriminalisasi dan penyempitan ruang demokrasi bagi masyarakat dan pegiat agraria yang memperjuangkan hak-hak konstitusionalnya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Jokowi turut berkontribusi memperburuk permasalahan agraria yang ada melalui berbagai proyek pembangunan infrastrukturnya.

Prabowo-Sandi Bagian dari Masalah

Bagaimana dengan kubu Prabowo-Sandi? Kubu oposisi menggarisbawahi ketimpangan penguasaan lahan di Indonesia, mengkritik kebijakan infrastruktur dan agraria Jokowi, mengurangi impor pangan, dan mempromosikan ekonomi terbarukan dan aplikasi teknologi di bidang pertanian? Tetapi, apakah benar janji kubu penantang memang semanis itu?

Sejauh amatan saya, usulan-usulan dari kubu oposisi masih cenderung sloganistik.

Ada beberapa pertanyaan penting yang harus ditujukan ke kubu Prabowo-Sandi. Misalnya bagaimana memastikan bahwa proses moratorium Hak Guna Usaha (HGU)—yang sering dipakai oleh korporasi-korporasi untuk melanggengkan kontrol mereka atas tanah rakyat—dapat dijalankan, apalagi moratorium atas HGU yang diberikan kepada rekan-rekan politik dan bisnis mereka sendiri?

Kemudian, jika kubu Prabowo-Sandi ingin mengurangi impor pangan, maka instrumen kebijakan apa yang perlu diambil untuk memastikan ketersediaan pangan? Pada saat bersama, bagaimana menjaga stabilitas harga komoditas pangan bagi para produsen?

Prabowo-Sandi juga mengklaim akan mempromosikan energi terbarukan dan aplikasi teknologi di bidang pertanian. Namun, solusi yang mereka tawarkan cenderung teknis dan teknokratis, abai dengan realitas sosial dan ketimpangan relasi kuasa di pedesaan yang sangat berurat-akar.

Dalam foreign media briefing kubu pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 yang saya hadiri baru-baru ini, tim Prabowo-Sandi mengatakan bahwa mereka akan mempromosikan sejumlah skema inovatif di kedua bidang tersebut, misalnya perkebunan aren, aplikasi teknologi terbaru di bidang pertanian, dan promosi partisipasi anak muda di sektor ekonomi pedesaan.

Tapi, saya tidak mendapat gambaran yang jelas mengenai bagaimana investasi di bidang perkebunan aren dapat dilakukan dan dikontrol secara demokratik oleh buruh pengumpul getah aren—apakah melalui organisasi rakyat seperti serikat buruh, koperasi, dan kelompok usaha? Atau lewat investasi skala besar yang justru berpotensi untuk mereproduksi ketimpangan sosial di pedesaan?

Pertanyaan lain yang juga tidak terjawab adalah bagaimana memastikan aplikasi teknologi di bidang pertanian dapat dilakukan secara bertahap sehingga tidak membuat tenaga kerja pertanian di pedesaan—ibu-ibu petani, yang peranannya rentan tergantikan oleh aplikasi teknologi baru—kehilangan mata pencarian?

Yang juga tak kalah penting, saya masih bertanya-tanya sejauh apa kubu Prabowo-Sandi akan berkomitmen kepada promosi ruang demokrasi di pedesaan dan pembatasan jenis-jenis investasi yang merampas ruang hidup rakyat desa?

Ada dua fakta yang perlu dipertimbangkan di sini. Prabowo aktif terlibat dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), sebuah organisasi desa bentukan Orde Baru yang awalnya dibentuk untuk mengekang ekspresi politik warga desa. Sementara Sandiaga punya kepentingan besar dalam industri ekstraktif.

Sangat wajar apabila banyak elemen di gerakan agraria dan masyarakat sipil tetap skeptis dengan komitmen kubu oposisi terhadap demokrasi politik dan ekonomi bagi rakyat desa.

Menariknya, kedua calon presiden dan wakil presiden ini sama-sama mengabaikan satu prasyarat menuju perubahan agraria yang fundamental: bahwa keadilan agraria hanya akan tercapai melalui upaya untuk melawan ketimpangan agraria melalui redistribusi—dengan kata lain, reforma agraria dalam artian yang sebenarnya—yang didukung oleh upaya advokasi dan mobilisasi politik yang mandiri dan kuat oleh rakyat desa sendiri.

Bagaimana dengan respon dari masyarakat sipil, terutama menanggapi dinamika politik agraria selama lima tahun terakhir? Sejauh penelitian doktoral saya berlangsung, saya menemukan organisasi-organisasi tani dan pegiat gerakan sosial di bidang agraria cenderung terfragmentasi. Akibatnya, kita tidak punya satu posisi alternatif bersama yang dapat digunakan untuk melawan diskursus dominan dari negara dan pasar.

Berbagai eksperimen politik yang dilakukan oleh beberapa organisasi dan individu pegiat agraria, misalnya memasuki institusi negara sebagai birokrat, berpartisipasi dalam forum yang cenderung didominasi diskursus neoliberal dan pro-pasar seperti Global Land Forum (GLF), dan keikutsertaan dalam kontestasi elektoral di tingkat lokal belum membuahkan hasil yang signifikan. Sejumlah eksperimen tersebut bahkan menunjukkan kenaifan dan sampai tingkat tertentu justru memperlihatkan oportunisme politik dari gerakan agraria itu sendiri.

Inilah catatan yang perlu diperhatikan para capres dan publik Indonesia menjelang debat kedua. Keadilan agraria dan kesejahteraan bagi rakyat desa hanya akan bisa dicapai melalui gerakan agraria yang demokratik, solid, dan militan—alih-alih sekadar mengekor dan menitipkan agenda ke tangan elite politik.
*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.