Unknown's avatar

About libby

A wandering soul with sociological imagination

Promised Land: Between Utopia and Reality

Promised Land: Between Utopia and Reality*

by Iqra Anugrah**

Utopia, whatever its form, always bring disaster to humanity. The ideas of “perfect human being”, “chosen people” or “promised land” are merely a way to bring totalitarian tendencies into power. History has shown us tragedies of political utopia, starts from Holocaust to Jerusalem.

Hamas launches its rockets to Israel. Israel strikes back with advanced military power. Thousand of peoples dead, Jerusalem remains bloody and peace seems impossible in Middle East

The very first question of this conflict is in what way we see it. I personally believe that this longing conflict has something to do with colonialism (or post-colonialism). One thing that Israel and Western power ignore is the mentality of colonized nations. Every effort from colonized nations to defend their freedom, whether it is right or wrong, has a moral reason. Violence is wrong, but that is the best weapon of the weak to defend their rights. Therefore, what Hamas or other Palestinian militias did should be seen not only as an attack to Israel, but also as a part of struggle for recognition. Holocaust is definitely a catastrophe, but can it be a reason to wipe out a group of people that already existed? Can we call a state with hidden racism in its values and institutions ‘democratic’? Palestinian people absolutely have a right to exist, to build their own state, and this is exactly what Israel and its Western supporters forget.

Other things that make the situation worse are internal conflict of Palestine and the weak position of Islamic world. It is a fact that Fatah is too corrupted and Hamas is too fundamentalist. This condition becomes worse by the absence of a figure that can unite Palestinian people after Yasser Arafat. Islamic world, especially Middle East does not have a strong position in global politics in order to be involved in bargaining over Palestinian issues. Post-colonialism, late modernization, spreading fundamentalism and internal conflicts such as Lebanon and Iraq has led to the incompetence of Islamic world to negotiate their interests.

The solution of this problem is back to the reality. Israel and Western powers have to leave hawkish approaches to deal with Palestine. They have to start to recognize current Palestinian administration and Hamas which have legitimate authority based on popular vote. Hamas also has to leave violence and go back to diplomacy. Palestinian people have to unite and forget the differences among them, Islamic world has to leave old fashion way to deal with this issue and Jerusalem should be declared as international city. Only by mutual understanding, peace in Middle East through two-state solution can be achieved.

Back to the reality means rejecting utopia, and accepting human being in the frame of humanity. Human is not an angel. He is kicked out from the heaven, condemned to be free, as Sartre said, in order to fulfill his meanings of life. He often makes mistakes, but we have to believe that he can learn from his mistakes to achieve his humanity.

*Published by The APU Times Vol. X January 2009, an independent student newspaper of Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)

**2nd year student of College of Asia Pacific Studies (APS), Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)

US Case and The Need for Alternative Political Economy Model

US Case and The Need for Alternative Political Economy Model*

by Iqra Anugrah**

On September 15th 2008, world witnessed the bankruptcy of Lehman Brothers, the global financial firm which has become the backbone of US Economy for many years. This bankruptcy gave a huge damage not only for Lehman Brothers, but also for US Economy and many other countries in the rest of the world, from Iceland to Hongkong.

As the result of this crisis, Bush administration immediately injected the bailout budget for restructuring US Economy. Many non-interventionist states also did the intervention to its economy. Countries that adopt the principle of welfare state could handle this crisis better, such as European countries. Some countries could do nothing, and they just declared the bankruptcy of their economy.

I bet if Milton Friedman knows this chaotic condition, he will resurrect from his grave, and feel hundreds regrets for everything that he said. This case, for me and many other people outside there, proves one thing: we cannot rely only on market mechanism alone to run our economy. The role of state in economy is still relevant, and will be relevant in the future, especially in terms of welfare and basic needs provision and in case of emergency, which is happening in US now.

The staunch defenders (or blind followers ?) of market mechanism will say that market has its own self-correction mechanism, and state has no right whatsoever to intervene economic activies. But they forget one fundamental thing: market, and human actors within it is not perfect and clean from any mistakes. They often make mistakes. US case has proven the imperfect sides of fundamentalist market mechanism with minimal government. US experience is a momentum that showed the relevance of welfare state and social government, and now we realize that welfare provision, free healthcare and education, stable currency markets and keynesian economics are alternative ideas which are worth to be seen and implemented.

The non-interventionist era has ended. Welcome back alternative ideas, welcome back welfare state. Welcome to the club!

*published at The Mountain Times Vol. VIII November 2008, an independent student newspaper of Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)

**2nd year student of College of Asia Pacific Studies (APS), Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)

Islam dan Pembebasan Sosial

Islam dan Pembebasan Sosial

Oleh Iqra Anugrah

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan”

(Q.S. al-Ma’un 1-7)

Islam adalah agama yang menghargai dan menekankan solidaritas sosial. Kewajiban melakukan dan menyeru kebajikan, menjauhi kemunkaran, membela orang lemah dan tertindas (al-mustadh’afin) telah difirmankan oleh Allah SWT di berbagai surat di dalam al-Qur’an. Begitu juga, dengan perjalanan peradaban Islam mulai dari politik, sejarah dan budaya, menunjukan urgensinya hal tersebut.

Kesalehan Ritual vs Kesalehan Sosial

Di antara surat yang paling terkenal mengungkap pentingnya solidaritas sosial adalah surat al-Ma’un ayat 1-3. Surat ini mengajarkan bahwa membantu dan membela sesama yang kurang beruntung adalah bentuk lain peribadatan kepada Tuhan. Orang yang mendustakan agama adalah mereka yang tidak memperdulikan orang-orang marginal, seperti orang miskin dan kaum dhu’afa. Lebih lanjut lagi, ayat ke 4-7 surat ini mengkritik orang yang hanya mengerjakan ritual-ritual agama, namun tidak memperhatikan keadaan orang lain di sekitarnya. Ini menunjukkan bagaimana Islam sangat memperhatikan tidak hanya aspek ritual namun juga aspek sosial dalam Ibadah.

Dalam Islam, iman dan taqwa tidak cukup hanya ditunjukkan dengan ibadah-ibadah ritual saja. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai dalam ibadah-ibadah yang bersifat ritual, seperti shalat dan sebagainya, tercermin dalam hubungan kita dengan sesama manusia.

Salah seorang sufi terkemuka pernah berujar bahwasanya peribadatan yang terbaik adalah pelayanan terhadap sesama. Oleh karena itu, kesalehan sosial tidak kalah penting dengan kesalehan ritual. Kesalehan sosial adalah konsekuensi logis dan mutlak dari kesalehan ritual sebagai seorang muslim.

Kesalehan sosial, dalam konteks surat al-Ma’un, adalah advokasi terhadap kaum yang lemah dan tertindas (al-mustadh’afin). Konsep ini bisa kita ulas kembali pada waktu awal da’wah Islam oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Awal Islam: Sejarah Pembebasan

Konsep kesalehan sosial dan advokasi terhadap orang kecil bukanlah sekedar doktrin. Sejarah awal penyebaran Islam di Mekkah oleh Rasul SAW menunjukkan bagaimana da’wah Islam sesungguhnya adalah perjuangan memanusiakan manusia, membebaskan manusia dari kungkungan yang tidak manusiawi, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan spiritual.

Kalimat syahadat merupakan inti dari perjuangan tersebut, yang diterjemahkan oleh Rasulullah sebagai jihad yang holistik. Tauhid yang dibawa dan diajarkan Nabi bukanlah sekedar perintah atau anjuran semata, melainkan sebuah slogan revolusioner yang menyerukan perubahan dan pembebasan umat manusia secara menyeluruh. Tauhid menggaungkan perubahan secara fundamental dalm berbagai aspek kehidupan manusia. Secara spiritual, tauhid membebaskan manusia dari takhayul dan berbagai ketidakpastian dalam berkeyakinan, menjadi kepercayaan kepada pencipta yang tunggal, yaitu Allah SWT. Sehingga manusia bisa menjalankan kehendaknya secara bebas, karena ia tidak bergantung kepada hal-hal yang klenik, irrasional, dan tidak pasti.

Dalam konteks politik, ekonomi, dan sosial, Tauhid adalah penegasan bahwasanya hanya ada penguasa tunggal yaitu Allah SWT. Manusia adalah hamba yang sama dihadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Karenanya, seorang muslim dituntut untuk menyerahkan diri hanya kepada Tuhannya, bukan kepada taghut-taghut kecil atau sesembahan yang lain, seperti harta, jabatan, kekuasaan, atau atasan.

Manifestasi terbesar dari pengertian ini adalah Tauhid menentang penghisapan dan eksploitasi sesama manusia oleh sesamanya, atau exploitation l’homme par homme. Inilah yang menjadi penyebab tumbuhnya penentangan terhadap Islam dari para pemuka dan petinggi suku Quraisy, karena mengancam posisi mereka.

Pengikut-pengikut awal Nabi juga banyak yang merupakan orang miskin atau budak, seperti Bilal (muadzin pertama dalam sejarah Islam). Nabi dan para sahabat juga berusaha keras untuk menghilangkan segala bentuk diskriminasi dan penghinaan atas harga diri manusia, misalnya, membeli dan membebaskan budak untuk menghapus perbudakan, serta mengangkat harkat dan derajat perempuan.

Apa yang dilakukan Rasulallah pada masa awal Islam adalah bukti bagaimana pembelaan dan keberpihakan Islam terhadap golongan yang termarginalkan baik secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari suatu masyarakat.

Puasa dan Misi Pembebasan Sosial

Bulan puasa adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk merenungkan makna Islam dan kesetiakawanan sosial. Puasa adalah kesempatan bagi kita semua untuk merasakan penderitaan orang-orang miskin dan orang-orang kecil di sekitar kita. Menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu adalah sarana kita untuk merasakan penderitaan mereka yang lemah dan terabaikan serta berempati dan bersimpati terhadap keadaan mereka.

Namun arti dan amanat puasa lebih dari sekedar perenungan. Puasa adalah sebuah komitmen akan misi pembebasan sosial, misi untuk membebaskan manusia dari kungkungan lahir dan bathin, sehingga siap untuk menyambut kemenangan, di mana semua manusia menjadi sama derajatnya di hadapan Allah SWT.

Karena itu, penerjemahan komitmen kita menjadi aksi-aksi untuk membela mereka yang kurang beruntung dan terpinggirkan adalah suatu keniscayaan. Sebab, sesungguhnya Islam adalah perjuangan untuk membebaskan mereka yang lemah dan tertindas, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Rasulullah semasa hidupnya.

Pembebasan kaum yang lemah dan terpinggirkan adalah agenda utama dari perjuangan besar untuk membebaskan manusia secara komprehensif dan menyeluruh, baik secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Perjuangan ini adalah perjuangan yang bersifat egalitarian, karena dengan membebaskan al-mustadh’afin dari segala kungkungan sosial, berarti mengembalikan manusia ke dalam tempat yang semestinya. Setara secara sosial dalam hubungannya dengan manusia yang dilandasi dengan persaudaraan berdasarkan iman kepada Allah.

Dalam skala besar upaya ini dapat diterjemahkan sebagai seluruh kegiatan perlawanan terhadap struktur sosial yang menindas mulai dari politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini yang menyebabkan Islam dibenci pada masa awal penyebarannya. Itu sebabnya mengapa Islam memerintahkan zakat. Sebuah upaya untuk mencapai keadilan dengan melakukan redistribusi terhadap harta kekayaan diantara muslim.

Inti dari perjuangan ini adalah keadilan. Keadilan adalah benang merah agama. Kesetaraan diwujudkan dengan membuat mereka yang berlebih berbagi dengan mereka yang membutuhkan, sehingga terwujud keadilan di muka bumi.

Puasa, sekali lagi, adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk memulai aksi tersebut. Puasa adalah perwujudan dari konsep yang disebut oleh salah satu intelektual muslim, Amien Rais, sebagai Tauhid sosial. Dengan kredo Laa Ilaaha Ilallah, Muhammad Rasulullah, sesungguhnya semua manusia adalah saudara yang sama dan setara dihadapan Tuhan.

Indonesia adalah negeri yang dipenuhi oleh para birokrat yang tidak berkomitmen, politisi yang tidak mempunyai prinsip, pengusaha yang tidak mau bekerja keras, praktek ekonomi minus moralitas, dan kesenangan tanpa nurani. Akibatnya, kondisi ini melahirkan ketimpangan sosial di mana-mana. Indonesia negeri yang membutuhkan minoritas kreatif untuk mendobrak segala macam bentuk korupsi dan kesewenangan.

Wallahu’alam

*Tulisan ini dimuat di Majalah GOZIAN, Edisi Perdana, Syawal 1429 H / Oktober 2008

Press Release: 17th ISM-IJFF 2008: Today’s Researcher, Tomorrow’s Leader

Tokyo, 25-26 August 2008

Rainy summer of Japan did not hinder Indonesian students around Japan to gather and present their academic works in the 17th Indonesian Students’ Scientific Meeting and Indonesia-Japan Friendship Forum (ISM-IJFF) 2008 at Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), organized by Indonesian Student Association in Japan (PPI) chapter Kanto in-cooperation with the Embassy of the Republic of Indonesia in Japan (KBRI). More than a hundred research abstracts had been submitted, with various topics start from applied sciences, life sciences, medical sciences, natural sciences, to social sciences.

On the first day of the ISM, numerous activities were arranged, start from dozens of presentations of research projects from fellow Indonesian students and researchers around Japan, and lectures from professors, professionals, and government officials both from Japan and Indonesia. The 17th ISM started with opening ceremony marked by report from the Chairperson of ISM-IJFF 2008, Muhammad Sahlan, and speech from the Chairperson of PPI, Deddy Nur Zaman, President of TUAT, Prof. Hidefumi Kobatake, and Indonesian Ambassador, Dr. Jusuf Anwar. The program continued with IJFF. In this session, Dr. Edison Munaf, attaché of education of KBRI, gave a presentation about education system in Indonesia. This year, in commemoration of 50 years of golden friendship between Indonesia and Japan, various cooperations especially in academic fields are also established. As the manifestation of IJFF, TUAT as one of universities in Japan which focuses on agriculture and technology and University of Gadjah Mada (UGM), one of leading universities in Indonesia, established a MoU to strengthen academic and research cooperation between two universities. TUAT side was represented by Prof. Hidefumi Kobatake, while UGM were represented by Prof. Retno. S. Soedibyo, vice president of research of UGM, who also gave presentation about UGM’s profile.

After lunch, the second session of IJF resumed with lectures about Indonesia-Japan relationship from former Japanese Ambassador to Indonesia, Mr. Sumio Edamura and Indonesian Ambassador Dr. Jusuf Anwar. Ambassador Sumio Edamura delivered a lecture about the comparison and similarities between Indonesian and Japanese language and culture, While Ambassador Jusuf Anwar emphasized more on political and economic relationship, especially after the signing of EPA.

At the night, first day of ISM was closed by general meeting of PPI and workshop from Association of Indonesian Alumni from Japan (PERSADA).

Second day of the ISM discussed another important issue which has drawn many attentions from global community, including Indonesia and Japan, energy availability. Two forum sessions titled “Indonesian Biomass for Energy Alternative” discussed current issues about energy from Indonesian and Japanese perspectives. These two sessions were moderated by Prof. Wuled Lenggoro from TUAT. In first forum session, Dr. Unggul Prayitno from Board of Research and Application of Technology (BPPT),

Mr. Yoshinori Satake from METI, and Prof. Masayuki Horio from Waseda University gave lectures about current energy condition in Indonesia and Japan and the need of new perspectives to tackle this issue. Second forum session resumed with lectures from Dr. Arif Yudiarto from BPPT, Mr. Issei Sawa from Mitsubishi, and Mr. Pria Indira from Indonesian state oil and gas company (Pertamina), which discussed about current policies for energy alternative and also strategies for future, both from government and industry perspectives.

Finally the 17th ISM-IJFF ’08 was closed by Prof. Wuled Lenggoro with great applause from the audiences. He expressed his appreciation for this event and hoped that ISM will be a sustainable forum for Indonesian students and researchers in Japan to present, share, and exchange their ideas for Indonesia’s development. Will the next ISM repeat this success? We’ll see later!

(Iqra Anugrah, 2nd Year student of College of Asia Pacific Studies Ritsumeikan APU)

Merayakan Kemerdekaan

*Post ini pernah dimuat di account facebook Saya, di sini

Hari ini adalah suatu momentum yang besar bagi sebuah bangsa bernama Indonesia. Genap sudah 63 tahun kemerdekaan kita, yang dirayakan dimana-mana, di seluruh nusantara dan juga jagad raya, dan oleh siapa saja, baik si tukang becak Mas Parmin, si supir bus Bang Tigor, bos-bos perusahaan, dan tentu saja, berbagai macam “orang biasa”, mengutip istilah Wimar Witoelar.

Saya rasa pertanyaan klasik, namun juga mendasar, bagi kita sebagai sebuah bangsa adalah “Apa itu kemerdekaan ?” dan “Bagaimana kita mengisi kemerdekaan ?”

Berbagai pemikir dan pemimpin dari berbagai bangsa pernah berpikir mengenai hal ini, dan berusaha menjawabnya, termasuk para pendiri dan pemimpin bangsa kita.

Di Eropa sosok Hitler dan Nazi di Jerman, serta di Russia yang diwakili oleh Lenin, Stalin, dan Partai Komunis, pernah suatu ketika merumuskan kemerdekaan sebagai “kemenangan bangsa Arya”, “kemurnian ras Arya”, “masyarakat tanpa klas”, “diktator proletariat”, dan berbagai konsepsi lainnya yang sejenis.

Hasilnya ? Katastrofi. Bencana kemanusiaan. Ratusan ribu bahkan jutaan anak manusia terbunuh tanpa alasan yang jelas, demi slogan “kemerdekaan” dibawah panji-panji “sosialisme” dan “nasionalisme”

Bangsa kita pernah mengalami sejarah kelam seperti itu, meskipun dalam skala yang lebih kecil, masa-masa di mana “kemerdekaan” menjadi sebuah alat untuk menindas kemanusiaan dan kita sebagai manusia.

Soekarno sang Proklamator pernah merumuskan kemerdekaan sebagai “demokrasi terpimpin” dan “Manipol Usdek”sebagai cara untuk merayakannya, sedangkan Soeharto merumuskannya sebagai “Orde Baru” dan menawarkan “Pembangunan” untuk merayakannya.

Dan seperti kita semua tahu, banyak nyawa hilang untuk menebus hal-hal tersebut, konsepsi-konsepsi tentang suatu bangsa yang “bebas”-murni dari berbagai pengaruh “luar”, dan kewajiban untuk mengisinya dengan “pembangunan”

Konsepsi-konsepsi yang seringkali kita tidak tahu apa maknanya, yang memaksa merumuskan “kita” sebagai sebuah kesempurnaan, dan karenanya, mengutip Goenawan Mohammad, “membekukan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda dari diri manusia”

Dan kita semua tahu sejarah telah membuktikan, bahwasanya, ide-ide yang berangkat dari utopia-utopia seperti itu akan berakibat fatal bagi kemanusiaan.

Beruntunglah sejarah kita masih dipenuhi oleh orang-orang yang sadar akan bahaya utopia-utopia itu, orang-orang yang menyadari bahwa yang utama, dan terutama, adalah kemanusiaan.

Salah satu dari banyak hal yang sudah dan sering kita lupakan adalah, manusia bukanlah suatu konsepsi mengenai kesempurnaan, sebab Tuhan yang transedental tidaklah menciptakan manusia sebagai sebuah sosok yang sempurna, itulah mengapa Dia menciptakan manusia dengan nafsu, sebagai pertanda kedaifan, dan kecacatan yang niscaya

Namun demikian, kita juga diciptakan dengan segenap potensi dan kemampuan, dan karena itu, kemanusiaan menjadi hal yang sangat penting. Melihat manusia tentulah harus dengan dua pandangan: optimistik dan pesimistik.

Dan saya pikir, hanya dengan melihat manusia seperti itu, dan menghargai sisi-sisi manusiawi dan kemanusiaan dari manusia, kita bisa menggapai kemerdekaan. Kemudian berpijak dari pandangan inilah, selayaknya kita merumuskan masa depan kita.

Itulah mengapa Hatta mencoba berpikir jauh ke depan, mencoba mewujudkan “utopia”nya, dengan cara-cara yang realistis, dan karena itulah, dia memilih demokrasi sebagai cara untuk mencapai cita-citanya. Dan kita semua tahu bahwasanya sepanjang hidupnya, Hatta dalah seorang demokrat sejati.

Dan Tan Malaka-seorang Marxis kawakan yang tidak dogmatis-berusaha mengubah cara berpikir bangsa ini, dengan aktivisme dan intelektualismenya yang damai, melalui berbagai karyanya seperti Madilog.

Seringkali kita berpikir, mungkinkah hal itu terwujud ? Apakah usaha melawan utopia bukanlah berarti utopia itu sendiri ?

Yang pasti, untuk mewujudkan “utopia kemanusiaan”-kalau boleh saya menyebutnya demikian, seringkali diperlukan pengorbanan yang besar, seperti yang almarhum Munir lakukan.

Tapi yakinlah, bahwa budi kemanusiaan yang mendasari kemerdekaan kita bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Orangh-orang seperti Gandhi membuktikan bahwasanya kemerdekaan adalah pembebasan bagi kemanusiaan.

Dan seringkali kita mendapati, tokoh-tokoh yang menjadi panutan kita untuk menggapai kebebasan terkadang “berkhianat” melawan prinsipnya sendiri. Oleh karena itu Chosmky mengingatkan “yang perlu kita cari bukanlah sosok yang ideal, melainkan gagasan yang sempurna”

Oleh karena itu, dalam rangka merayakan kemerdekaan, marilah kita resapi dalam diri kita semua, merayakan kemerdekaan adalah membela kebebasan, suatu hal di mana manusia bebas dari tekanan dan ancaman di luar dirinya. Merayakan kemerdekaan adalah menjaga kemanusiaan, mengakui bahwasanya manusia bukannya makhluk yang sempurna, namun memiliki potensi untuk berkembang, dan berusaha menjaga itu. Merayakan kemerdekaan berarti anti-utopianisme, berlawan terhadap ide-ide yang tidak menghargai kemanusiaan, dan mengancam kebebasan.

Seraya merayakan kemerdekaan, mari kita berusaha dan berdoa agar Indonesia menjadi negara yang sekali merdeka tetap merdeka, menghargai kebebasan. Semoga Indonesia konsisten di relnya sebagai negara demokratis, semoga Indonesia menjadi bangsa yang religius sekaligus menghargai kebebasan agama dan kebebasan berpikir, semoga sejarah kelam utopianisme semu tentang “masyarakat yang sempurna” tidak pernah terulang lagi kelak di bumi Indonesia, dan di dunia ini.

Merayakan Kemerdekaan, Melawan Utopianisme, Menghargai Kemanusiaan, Membela Kebebasan !

Dirgahayu Republik Indonesia !