Unknown's avatar

About libby

A wandering soul with sociological imagination

Disaster Politics and Non-Traditional Security in the Asia-Pacific

Disaster Politics and Non-Traditional Security in the Asia-Pacific

http://global-politics.co.uk/blog/2011/04/17/disaster-politics/

The recent series of disasters in Japan has prioritized the importance of disaster mitigation. Starting from earthquakes and tsunamis in Tohoku area which are still continuing, followed by nuclear power plant issues in Fukushima which has already reached level 7, the highest emergency level in international nuclear standards, the calamities have caused an enormous number of victims and internally-displaced people. There have been growing concerns not only in Japan, but also in the rest of the world on how to handle the situation. Putting aside the powwows in the media, there is a popular push for a greater transparency from the authorities, especially from the Japanese government and TEPCO or Tokyo Electric Power Company following their handling of Fukushima nuclear power plant crisis.

Reflecting from the Japanese experience, there are two lessons learned from this case. First, regionally speaking, the Asia-Pacific possesses the same vulnerability as Japan in facing the danger of disasters. Second, it is clear that disaster issues have a significant political and security dimension. In the discipline of International Relations, the risk of natural disaster, along with a variety of other problems such as disease epidemic and climate change, is categorized under the umbrella of Non-Traditional Security Threats or NTS. Whereas traditional security perspective focuses on state as the main agent and perpetual threat in international politics and puts more emphasis on military-based measures, NTS threats are largely nonmilitary, asymmetric, and transnational in nature. Japan’s situation is an obvious example of NTS challenge, which requires an immediate effort of “securitization”.

Politics of Disaster

To securitize and mitigate the impacts of disaster, a collaboration of state and societal responses is essential for an effective disaster mitigation policy. Despite many criticisms on the transparency of the administration, Japan has shown how the combination of sound public policy and social solidarity among citizens complemented with a good infrastructure and relief system is the key to bring about post-disaster stability.

The question that needs to be posed is how to implement such kind of policy at regional level, especially in the Asia-Pacific where there is a high level of disaster vulnerability and diverse profiles of socio-economic, demographic, and mitigation systems. The use of nuclear energy and its socio-political effects are also another factor which will also trigger various pros and cons in the public space As a geographically vulnerable region, it is imperative for every regional actor in the Asia-Pacific to develop regional mechanism to tackle NTS challenges, in order to promote regional resilience and readiness in the field of NTS, in particular to promote disaster preparedness among the policymakers as well as the citizens.

The spotlight should also be directed to the developing part of the Asia-Pacific, for instance Indonesia, the Philippines, and other countries in Southeast Asia to name a few, considering the fact that these countries, which are lacking capacity in disaster management, have been frequently affected by natural calamities, such as the Indian Ocean Tsunami in 2004 and the Kestana Typhoon in 2009. In the light of this argument, the move for transnational and regional initiatives is more important than ever.

Changing Contour of Japanese Politics

The unpredictable natural catastrophe in Japan will reshape the domestic, regional, and international dynamics of disaster politics in the upcoming years in many ways.

First, compared to many other countries, even the developed ones, Japan has set the standard on disaster mitigation and the management of its impacts. The secret of Japan’s competence in maintaining social order and solidarity lies in the close cooperation between state and society, manifested in public policies and infrastructures, and more importantly, ethical values of solidarity, orderliness, and altruism. It is important to note that this spirit is not built overnight, but a result of incentive-based policies of encouraging the value of social cohesion as a virtue.

Second, the current condition of the Fukushima story indicates that although the Japanese government has done the right thing, there is a lack of transparency from the government and TEPCO in dealing with the nuclear issue. In order to gain the public trust, it is necessary to have a better communication with the citizens; otherwise the public distrust may continue to grow.

Third, the disaster has unexpectedly transformed the nature of Japanese politics. For the incumbent Democratic Party of Japan or DPJ, who is a newcomer in Japanese politics, this is a test for the party’s competency in responding to public demands. Concurrently, we also witness the rise of alternative politics and social movement in Japan, as can be seen in the latest anti-nuclear protests in Tokyo.

Japanese Lessons for Vulnerable Asia-Pacific

There are a couple of steps that can be taken into future consideration for the Asia-Pacific in the aftermath of the tragedy in Japan.

The existing regional mechanism for NTS challenges should be translated into a set of concrete policies and action plans. At the moment, ASEAN has a number of agreements on NTS. However, it is crucial to implement this instrument not only within the institution, but also with other entities as well. Joint cooperation on NTS between China and ASEAN, for example, ought to be executed in a more concrete manner.

In regards to people’s participation in disaster mitigation, what the region needs now is the state capability to integrate social solidarity in the policy framework of disaster management, as exemplified by Japan. Furthermore, the media should also act as the channel of impartial information and reporting of the truth, rather than the tool of instigating public panic. Last but not the least, enhancing the state capacity in the Asia-Pacific will be the key in coping with the hazard of disaster and other NTS threats. At the end of the day, it is the state that should act and take the lead.

*Iqra Anugrah is a Master student at Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan. He is actively involved in a number of student movements.

Bencana, Jepang, dan Kita

Bencana, Jepang, dan Kita

OLEH INDOPROGRESS ⋅ MARET 24, 2011 ⋅ TINGGALKAN KOMENTAR

Iqra Anugrah

Iqra Anugrah
Iqra Anugrah, Kandidat Master di Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University. Tinggal di Jepang Selatan. 

http://indoprogress.com/2011/03/24/bencana-jepang-dan-kita/

HARI JUMAT,  11 Maret 2011, tak ubahnya seperti hari biasa. Selepas menunaikan ibadah shalat Jumat, saya dan beberapa teman melanjutkan hari dengan makan siang. Saya kemudian pergi ke kampus, untuk segera dikejutkan dengan serentetan berita dan pemberitahuan dari teman-teman mengenai gempa dan tsunami di daerah Tohoku, di Utara Jepang.

“Ada gempa dan tsunami di Miyagi, Sendai, dan sekitarnya”

“Yang benar?”

“Ya! Coba cek internet”

Melalui koneksi internet dari telepon seluler, kami menyaksikan bencana dari kejauhan yang kurang lebih berkisar antara 1000-1500 km. Tak ada yang menyangka bahwa Beppu, kota kecil di ujung Selatan Jepang yang terletak di pulau Kyushu bisa menjadi salah satu tempat teraman dan tertenang di satu Jepang.

Dampak bencana itu begitu dahsyat. Gempa dengan kekuatan 8,9 magnitude itu menggoncang Jepang. Tidak hanya itu, tsunami juga melalap dan meratakan apapun yang dilewatinya, mulai dari daerah pemukiman, gedung-gedung, hingga fasilitas umum. Dalam selang waktu yang tidak begitu lama, ada banyak kekhawatiran mengenai kerusakan dan kebocoran instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima.

Menanggapi rangkaian bencana ini, respon dari masyarakat Jepang dan komunitas internasional pada umumnya begitu luar biasa. Begitu derasnya ekspresi solidaritas, keprihatinan, dan simpati dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar Jepang, dari segenap elemen masyarakat. Kami yang kebetulan tidak terkena dampak bencana dan baik-baik saja, juga memutuskan untuk membuat posko dan mengunpulkan donasi seadanya untuk kemudian dikirimkan ke pihak berwenang seperti kedutaan besar republik Indonesia (KBRI) dan Japanese Red Cross Society.

Menanggapi Bencana

Di tengah-tengah pemberitaan media luar dan tanah air yang tidak berimbang dan berlebihan mengenai mitigasi dan penanganan bencana di Jepang, ada arus energi positif yang begitu besar. Melampaui sekat-sekat primordialitas, afiliasi politik, etnisitas dan kewarganegaraan, dan kepentingan-kepentingan jangka pendek, pemerintah dan warga Jepang serta berbagai komunitas warga asing di Jepang, saling bahu-membahu membantu para korban. Gelombang solidaritas yang begitu besar terus berkembang, baik di dalam maupun luar Jepang, offline maupun online, menyebarkan doa, harapan dan semangat. Ada satu fakta yang sangat dicamkan oleh orang-orang Jepang, bahwasanya mereka hidup berdampingan dengan bencana, dan karenanya diperlukan penanganan yang tepat.

Selain didukung oleh “resep klasik” infrastruktur, kebijakan, dan penguasaan sains dan teknologi yang baik, mitigasi dan manajemen bencana di Jepang tidak lepas dari kuatnya dan bangkitnya nilai-nilai solidaritas sosial a la Jepang, yang kurang lebih dapat diintisarikan dalam tiga prinsip, yaitu solidaritas, altruisme, dan ganbaru, sebuah istilah khas Jepang, yang agak susah untuk dicarikan padanannya dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, namun dapat diterjemahkan secara bebas sebagai “semangat berjuang”. Kita mengenal Magna Charta dan Habeas Corpus sebagai dokumen penting di peradaban Barat. Dalam konteks Jepang, dokumen yang menjadi landasan politik kewargaan dan solidaritas sosial Jepang, menurut Nitobe Inazo, salah seorang diplomat dan pemikir kenamaan Jepang, adalah Bushido.

Cerita-cerita heroik dan mengharukan tentang segerombolan anak yang membagikan makanan dan permen bagi para pengungsi dan warga yang memerlukan, para kepala desa yang terpaksa harus meregang nyawa demi menyelematkan warganya, hingga kerelaan orang-orang untuk tetap mengantri demi mendapatkan makanan dan berbagai bantuan serta fasilitas lainnya, menunjukkan bagaimana etika Bushido tetap hidup sebagai pedoman politik kewargaan, untuk bersama bangkit, maju bersama komunitas dengan kaki dan usaha sendiri. Tidak heran jika kemudian PM Naoto Kan sudah mendeklarasikan kebijakan “New Deal” atau percepatan perkembangan ekonomi melalui rekonstruksi pasca bencana. Tentu nilai-nilai Jepang bukanlah yang paling sempurna, begitu banyak kritisisme yang dapat ditujukan kepada kondisi Jepang kontemporer, mulai dari tafsir apologetik akan sejarah kelam militerismenya, kurangnya progresivitas politik, hingga lesunya ekonomi. Namun demikian, begitu banyak hal-hal yang kita bisa pelajari dari Jepang, terutama sekali dalam masa berkabung dan keprihatinan pasca bencana, yang merupakan momentum bagi Jepang untuk merefleksikan diri demi merajut masa depan.

Momen Kontemplasi

Politik kewargaan Jepang yang didasarkan atas solidaritas, altruisme, dan kepercayaan publik terhadap sesama anggota komunitas seakan-akan menegur kita. Ada sebuah ancaman besar yang hidup bersama mereka, dan Jepang berhasil menjadikan ancaman itu sebuah pedoman bagi kehidupan publik, yang diterjemahkan di berbagai lini mulai dari pendidikan, sains dan teknologi, kebijakan, infrastruktur, dan lain-lain. Tidak ada liputan-liputan televisi yang berlebih-lebihan dan mendayu-dayu, diiringi dengan lagu-lagu sedih, ataupun pendapat-pendapat yang berisi dogma-dogma, takhayul-takhayul, maupun penafsiran-penafsiran yang sepihak dan tidak perlu.

Hal ini begitu kontras dengan kita, yang masih berkutat dan terjerembab di lubang yang sama, mulai dari isu kebebasan beragama, hiruk-pikuk media, kesenjangan sosial, hingga keamanan. Indonesia 2011 tidak kalah mirip dengan Jepang di era 1920-an, ketika militerisme dan fundamentalisme menguasai diskursus publik.

Tak sedikit dari kita yang masih berani untuk “bermain Tuhan,” mengaitkan-ngaitkan bencana sebagai bentuk karma dengan masa lalu dan “kemaksiatan” Jepang. Tak sedikit yang menganggap bencana ini adalah “hasil konspirasi Amerika,” meskipun jumlah korban semakin meningkat tiap harinya. Seakan-akan ingin turut menambah keruh persoalan, Gubernur Tokyo, Ishihara Shintaro, seorang politisi sayap kanan, juga menganggap bahwa tsunami kali ini adalah “divine punishment” hukuman dari langit untuk menghapus dosa-dosa dan egoisme bangsa Jepang. Ingin rasanya saya mengelus dada dan menghela napas, seraya menangadahkan muka ke langit dan berkata “Tuhan, kapan kita bebas dari kebencian?”

Membangkitkan kembali politik kewargaan

Deretan bencana di Jepang menyadarkan peran kita sebagai anggota komunitas. Lebih penting lagi, solidaritas dan modal sosial yang kembali hidup dan bangkit pasca bencana menunjukkan bahwa masih ada kesempatan bagi politik kewargaan yang berdasarkan pada nilai kebersamaan, kesetaraan, dan kepercayaan.

Dalam konteks Jepang, perubahan sosial-politik pasca bencana akan sangat menarik untuk di lihat. Di parlemen dan eksekutif, Partai Demokrat Jepang atau DPJ mendapat pelajaran yang berharga sebagai pemain baru di politik Jepang sekaligus momentum untuk menunjukkan kredibilitas dan komptensinya. Dalam tataran yang lebih luas, ini membuka peluang bagi gerakan-gerakan progresif di Jepang untuk menguatkan posisi tawar warga negara dalam menantang institusionalisasi, kemapananan, dan rigiditas diskursus politik Jepang dan mengedepankan agenda-agenda perubahan.

Bagi kita, ini adalah sebuah pesan untuk bertindak nyata sebagai concerned citizens of the world, untuk bangkit dari kursi empuk, meninggalkan kamar ber-AC, dan cuti sejenak dari kegiatan online kita untuk meningkatkan modal sosial dan menyegarkan kembali politik kewargaan, khususnya di tanah air. Di saat kecemasan melanda, di saat itulah harapan dan aksi nyata justru akan tumbuh, yang semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya kemanusiaan itu melintasi dan tidak memiliki batas.***

Kepustakaan:

Buruma, Ian. (2011, March 19). Japan’s Shattered Mirror. Wall Street Journal. Retrieved from http://online.wsj.com/article/SB10001424052748703818204576206550636826640.html

Kyodo News. (2011, March 14). Restoration after quake disaster could create ‘New Deal’ demand: Kan. The Japan Times. Retrieved from http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110314x2.html

Kyodo News. (2011, March 15). Ishihara apologizes for ‘divine punishment’  remark. The Japan Times. Retrieved from http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110315x7.html

Nitobe, Inazo. (1969). Bushido, the Soul of Japan. Rutland, Vermont: Charles E. Tuttle Company.

The Politics of Heresy

http://www.global-politics.co.uk/blog/2011/03/05/heresy/

The Politics of Heresy

Let’s take a rest from talking about the revolution. While the Arab Peninsula is now experiencing a series of demonstrations demanding for greater political and social reforms, what has happened in Indonesia in the last couple of weeks seems to deserve attention.

In this world’s biggest Muslim nation which embarks upon the path of democracy, three threats on interfaith tolerance have just occurred. First, in Pandeglang, Banten, the attack on the Ahmadiya community has caused at least three deaths and several injuries. Second, just a couple of days after the Ahmadiya incident, three churches in Temanggung, Central Java were attacked and destroyed by angry mobs during a blasphemy trial. Third, Pondok Pesantren YAPI, a Shiite Islamic boarding school in Pasuruan, East Java was also attacked by an unknown group of assailants.

These cases clearly are a setback upon pluralism and further democratization of Indonesia. These religious minorities are part and parcel of Indonesian society, meaning that they have been a part of community and contributed significantly as members of society. The problem comes when due to the major differences in doctrines and religious interpretations, some of these groups, such as the Ahmadis, are considered as heretics. Using this “heresy” issue, a significant number of politicians and public officials use this opportunity to declare Ahmadiya as heretics, and thus, legitimize calls for the banning of its teaching and propagation activities. One of the major initiators of this proposal is Religious Affairs Minister and Chairman of the Islamist Party PPP, Suryadharma Ali. At local level, this plan has been endorsed by the Governor of East Java, Soekarwo, through a Governor’s Decree which outlaws the spread of Ahmadiya ideas and the usage of Ahmadi symbols, especially in mosques and educational institutions.

This politicization of heresy is supported by the President’s indecisiveness and lack of leadership in upholding religious freedom even for those who are considered as heretics. This risk-averse attitude explains why President Yudhoyono’s government leaves the matters now to the lower-ranking officials at local level. A rising rate of violent activity, especially towards religious minorities committed by Islamic fundamentalist groups such as the Islamic Defender Front (FPI) and others has jeopardized the President’s credibility. Indeed, the FPI has staged a number of protests and gatherings to demand the prohibition of Ahmadiya teachings and usage of Islamic symbols and even gone as far as threatening to wage a ‘revolution’ if the government does not disband the Ahmadiya. The Indonesian Council of Ulemas or MUI’s fatwa (religious edict) on the heretic elements of Ahmadiya’s religious principles in 1980s has also triggered a series of violent actions towards the Ahmadis. A number of MUI’s branches in some provinces, cities, and regencies have even asked the local government to assist in banning Ahmadi teachings.

Surprisingly, East Java’s branch of Nahdlatul Ulama (NU), a moderate Islamic mass organization which is famous as a bastion of moderation and tolerance and a home for many progressive Islamic intellectuals recently declares its support for East Java’s Governor Decree on the banning of Ahmadiya teachings and its dissemination. In the beginning of March, another demonstration organized by the Islamic Community Forum (FUI) at the heart of Jakarta also demands the government to dissolve the Ahmadiya despite the fact that the Ahmadi community in Indonesia (JAI) has been registered as a legal organization since a long time ago.

It is an alarming fact that this conservative rhetoric has reached even moderate organizations such as the NU and some politicians and MPs who even come from secular parties. Putting aside the debates on heresy and legal process of the three incidents, there have been some allegations regarding recent attacks and political powwows in response to these incidents. Some suspicions are addressed towards the attacks which happened all of a sudden and in a relatively short period of time (three incidents in a month). Furthermore, further political moves by FPI, other Islamic fundamentalist groups and some politicians have attracted many inquiries from the citizens in general. In the commemoration on NU’s 88th Anniversary Seminar in East Java, FPI Chairman, Habib Rizieq and Chairman of the secular Golkar Party, Aburizal Bakrie said that they feel ‘at home’ and ‘secure’ in NU community. The seminar, interestingly, was also attended by some other party cadres such as Anas Urbaningrum from the incumbent Democrat Party and KH Noes Iskandar SQ from the Islamist PPP. In the latest news report, FPI’s Chairman Habib Rizieq and some other representatives from the organization have entered the Presidential Palace to have a discussion with President Yudhoyono and other high-ranking state officials, such as Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, Internal Affairs Minister Gamawan Fauzi, and Head of Jakarta Metropolitan Police Sutarman.

Judging from the current political situation, a political-economic analysis might be needed. A fluid and unpredictable coalition pattern of political parties along with the use of political violence and paramilitary groups in politics and the attempt to gain Islamic and populist credentials through the anti-Ahmadiya campaign are some perspectives that may help in seeing things more clearly. A better understanding of the political-economic nexus behind these political thugs like the FPI will explain who initiates these groups, what the real purposes behind them are, and whom the targets of this violent operation are. Since the state is now silent to debunk these mysteries, it is a primary task for civil society activists and concerned citizens to reveal the truth.

*Iqra Anugrah is a Master student at Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan. He is actively involved in a number of student movements.

Posted on March 5, 2011

Neoliberalisme di Asia: Antara Mitos dan Realitas

Neoliberalisme di Asia: Antara Mitos dan Realitas

OLEH INDOPROGRESS ⋅ MARET 1, 2011 ⋅ TINGGALKAN KOMENTAR

Iqra Anugrah

Iqra Anugrah
Iqra Anugrah, Kandidat Master di Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. 

http://indoprogress.com/2011/03/01/neoliberalisme-di-asia-antara-mitos-dan-realitas/

PERTUMBUHAN, kemajuan, dan inovasi. Kata-kata ini seakan-akan menggambarkan citra Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara, dalam pentas politik dan ekonomi global. Disebut-sebut sebagai kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, Asia menjadi salah satu penggerak transaksi ekonomi global dan berbagai aktivitas trasnasional lainnya. Berbagai klaim atas kemajuan di Asia, seringkali dialamatkan kepada kebijakan ekonomi yang pragmatis dan “nilai-nilai Asia” (Asian Values). Penjelasan triumfalisme Asia ini kembali menghangat setelah Kishore Mahbubani (2008) menulis bahwa kebangkitan Asia juga merupakan kebangkitan peradaban non-Barat (The Rise of the Rest), yang berdasarkan kepada pragmatisme Asia dalam menghadapi tantangan global. Meskipun penafsiran ini dapat menggambarkan perkembangan taraf sosio-ekonomi dan posisi strategis global Asia, pembacaan ini cenderung simplisitik dan karenanya diperlukan suatu analisa yang lebih komprehensif

Dengan demikian,  pengujian kembali terhadap tesis-tesis ini diperlukan karena Asia sebagai sebuah entitas, meskipun memiliki banyak pencapaian, tidak lepas dari berbagai masalah. Berbagai macam survei, laporan, dan berita menunjukkan bahwa Asia masih merupakan salah satu ladang subur kemiskinan, kesenjangan, dan otoritarianisme. Kelesuan ekonomi Jepang, kebangkitan Cina, meningkatnya persaingan geopolitik dan keamanan serta arus demokratisasi semakin menambah kompleksitas Asia. Di tengah-tengah arus perubahan ini, neoliberalisme tetap bertahan sebagai sebuah pedoman bagi pemerintahan negara-negara dan regional order di Asia. Dominasi Neoliberalisme di Asia pada akhirnya berujung pada dua pertanyaan: bagaimana Neoliberalisme bekerja dan memengaruhi diskursus politik, ekonomi, sosial, dan budaya di Asia dan bagaimana masa depan Neoliberalisme di Asia?

Apa itu Neoliberalisme?

Kesenjangan dan kontradiksi di Asia, muncul disebabkan oleh dominasi logika transnasionalitas dan logika pasar dalam dimensi politik, ekonomi, serta sosial dan budaya. Dominasi ini seringkali menaklukkan otoritas negara-bangsa (nation-state) dan memarginalisasikan konsep lokalitas dan nilai-nilai lokal. Atas nama globalisasi dan kemajuan ekonomi, hasrat untuk mengundang arus kapital dan investasi menjadi panglima yang menuntut baik negara dan masyarakat untuk beroperasi menurut diskursus tersebut, yaitu Neoliberalisme, yang dapat diartikan sebagai free-marketism atau dominasi pasar bebas dan ekonomi laissez-faire sebagai suatu pandangan yang mendikte struktur pemerintahan dan hubungan internasional dalam suatu kawasan. Pengertian Neoliberalisme di sini, tidak hanya merujuk kepada konteks filsafat dan politik-ekonominya, tetapi juga merujuk kepada aspek sosiologis dan historisnya, yang sedikit banyak memengaruhi tata pemerintahan di Asia.

Berdasarkan asumsi-asumsi dasar bahwa manusia dan institusi adalah agen rasional yang bergerak berdasarkan logika pasar yang murni, Neoliberalisme pada dasarnya memimpikan suatu utopia di mana efisiensi mekanisme pasar menjadi dasar dari segala aktivitas politik, ekonomi, dan sosial. Sosiolog kenamaan asal Perancis, Pierrer Bourdieau (1998) mengkritisi utopia ini sebagai sekedar sebuah fiksi matematis yang alih-alih mendasarkan klaim-klaimnya pada pembacaan yang objektif atas kondisi riil masyarakat, utopia ini malah dibangun atas dasar-dasar yang abstrak. Lebih lanjut lagi, Thorsen (2009) dalam penjelasannya mengenai Neoliberalisme menyatakan, Neoliberalisme secara esensial memiliki fitur-fitur yang berbeda dengan Liberalisme modern dikarenakan oleh penekanannya pada mekanisme pasar yang sedikit atau tidak teregulasi sebagai pedoman yang utama dan menyeluruh bagi kehidupan publik.

Lalu, seperti apa mitos dan realitas neoliberalisme ini? Berikut ini beberapa contohnya:

Mitos 1: Neoliberalisme membawa kesejahteraan, keterbukaan dan perubahan

Realitas: Neoliberalisme meningkatkan kesenjangan dan justru melanggengkan kecenderungan otokratik pada sistem politik-ekonomi yang ada

Neoliberalisme (dengan huruf ‘N’ besar), selain dijadikan panduan kesuksesan ekonomi dan legitimasi politik berbagai rejim pemerintahan di Asia yang cenderung semi-demokratik, iliberal, atau otoriter, juga banyak dikritisi sebagai penyebab jatuhnya Asia ke dalam jurang Krisis Finansial 1998 dan merebaknya kebijakan publik yang kurang demokratis dan kurang peka terhadap permasalahan sosial, seperti pemangkasan anggaran sosial, kontrol terhadap serikat buruh, dan pengurangan intervensi pemerintah dalam ekonomi (Crotty & Dimsky, 1998; Hart-Landsberg, 2002). Neoliberalisme mengklaim, dengan memberikan komando politik dan ekonomi kepada pasar bebas maka kesejahteraan, keterbukaan, dan perubahan dapat digaransi. Namun demikian, ada beberapa fakta yang menarik bahwa janji-janji ini seakan-akan hanyalah bentuk lain dari “kesuksesan statistik” belaka.  Program restrukturisasi ekonomi a la IMF, Bank Dunia, dan institusi keuangan global lainnya, seperti relaksasi kontrol kapital oleh negara justru semakin menambah masalah baru, seperti yang terjadi di Indonesia dan Korea Selatan. Kesenjangan dalam standar hidup dan level sosio-ekonomi masyarakat semakin melebar dikarenakan kurang atau ketiadaan program-program sosial terutama di sektor kesehatan, perumahan, dan pendidikan. Tidak hanya itu, kecenderungan otokratik dan koruptif pada sistem politik-ekonomi yang ada justru semakin langgeng. Tidak heran jika kartunis politik asal Meksiko, El Fisgon (2005) mengkritisi visi Neoliberal sebagai jauh panggang dari api. Indikator-indikator ekonomi secara makro ternyata tidak (pernah) cukup untuk dapat menjelaskan apa yang terjadi di masyarakat.

Mitos 2: Neoliberalisme dapat bersanding mesra dengan retorika nilai-nilai Asia

Realitas : Neoliberalisme memanipulasi komunitarianisme Asia demi lancarnya arus kapital

Ada sebuah fakta yang menarik bahwa rejim neoliberal di Asia bekerja di bawah panjí “nilai-nilai Asia” yang berbasis komunitarianisme, baik itu Konfusianisme, Islam, dan lain-lain. Ironisnya, melalui slogan-slogan komunitarian inilah, rejim pembangunan otokratik (developmental state) menerapkan segenap agendanya yang berupa gabungan antara pendekatan liberal demi ekonomi pasar bebas transnasional dan pendekatan konservatif terhadap hak-hak sipil dan politik, atau disebut juga sebagai conservative free-marketism. Vedi Hadiz (2006) mengungkapkan bahwa meskipun retorika Asian Values seringkali dijadikan simbol perlawanan oleh para elit pemegang kekuasaan dan modal di Asia, pada kenyataannya kebijakan Neoliberal justru dipraktekkan oleh para elit di masing-masing negara tempat mereka berkuasa.

Lebih lanjut lagi, secara etnografis, hegemoni neoliberalisme dapat dilihat pada studi kasus Katharyne Mitchell (2004) tentang komunitas diáspora Hong Kong di Vancouver, Kanada, yang selain bermigrasi ke Kanada juga membawa sejumlah kapital yang cukup besar. Migrasi manusia dan kapital ini mengakibatkan perubahan pada lanskap sosial kota Vancouver, yang ditandai dengan menjulangnya gedung-gedung pencakar langit dan menyebarnya rumah-rumah megah yang disebut “rumah monster.” Migrasi dan perubahan lanskap sosial ini menyebabkan ketegangan antara warga Kaukasian, yang merupakan mayoritas di Kanada (White Canadians), yang menjunjung nilai-nilai liberalisme sosial yang bertumpu pada solidaritas dan kesetaraan dan pihak pemerintah yang didukung oleh asosiasi bisnis, akademisi, dan birokrasi yang memandang bahwa memastikan arus kapital dan daya saing dalam arus ekonomi global adalah keharusan sesuai semangat neoliberalisme. Pertentangan diskursus ini tercermin dalam manajemen dan konflik tata kota yang diwarnai oleh berbagai sentimen, dari kelas hingga etnisitas.

Dalam kaitannya dengan neoliberalisme, komunitarianisme Asia ibarat pepesan kosong, karena nilai-nilai yang dianggap identik dengan semangat komunitarianisme seperti solidaritas sosial, toleransi atas perbedaan dan keragaman serta penghargaan terhadap komunitas semakin tergerus oleh neoliberalisme.

Mitos 3: Neoliberalisme melemahkan kuasa negara-bangsa

Realitas: Negara-bangsa tidak melemah, melainkan bertransformasi dan memperkuat dirinya sesuai dengan logika neoliberal

Salah satu perdebatan terhangat mengenai Neoliberalisme adalah menafsirkan bagaimana Neoliberalisme memengaruhi negara dalam arus transnasionalitas. Kolumnis The New York Times Thomas Friedman (2005) dan ideolog Neokonservatif Francis Fukuyama (1992) menyatakan,  globalisasi (neoliberal) akan memudarkan batas-batas antar negara, membuat dunia datar (the world is flat), yang merupakan akhir dan puncak dari sejarah peradaba manusia (the end of history). Dalam nafas yang sama, meskipun memakai pradigma yang berbeda, dua pemikir kiri kontemporer, Michael Hardt dan Antonio Negri (2000) dalam Empire menafsirkan bahwa negara akan tunduk mengikuti arus kapital global. Bagi Hardt dan Negri, globalisasi neoliberal adalah kancah pertarungan antara kedaulatan modern yang ‘transedental,’  yang terpusat pada kekuasaan sang Pangeran (The Prince), yang ekuivalen dengan otoritas negara dalam berbagai bentuknya di konteks modern, vis-a-vis arus kapital yang ‘imanen’ yang menerjang batas-batas artifisial negara dan kedaulatan. Meskipun pada dasarnya kekuasaan negara dan kapital berpadu mesra pada awal perkembangannya, evolusi kuasa negara dari sekedar kedaulatan nasional (sovereignty) menjadi governmentalitas (governmentality) atau mekanisme untuk mengontrol warga negara menjadi titik mula perceraian dan konflik antara kedaulatan modern versus arus kapital transnasional yang mendikte kedaulatan dan melampaui batas-batas negara.

Sebaliknya, Aihwa Ong (2006), seorang antropolog terkemuka asal Asia Tenggara, berpendapat bahwa kapitalisme neoliberal tidaklah serta-merta melemahkan otoritas negara. Negara, dalam pandangan Ong, tidaklah melemah, melainkan menjadi semakin kuat karena ia bertransformasi dalam menghadapi transnasionalisme berdasarkan logika neoliberal. Dengan demikian, neoliberalisme, menurut Ong, adalah sebuah pengecualian (neoliberalism as exception) yang menjustifikasi berbagai praktek kekuasaan dan tata negara demi lancarnya arus kapital global ke dalam negara-bangsa. Praktek kekuasaan ini dijuluki sebagai graduated sovereignty, sebuah konsep pemerintahan yang menerapkan berbagai teknologi, dalam paradigma Foucaldian atau mekanisme inklusi dan eksklusi, memberi akses dan keuntungan dan juga membatasi akses tersebut terhadap sebagian kelompok dalam populasi suatu negara-bangsa. Kontrol militer atas aktivitas serikat buruh di Indonesia, promosi Islam Hadhari sebagai bukti kompabilitas nilai-nilai Asia dengan kapitalisme global, suka duka buruh migran perempuan, hingga berbagai zona ekonomi spesial di China dan Hong Kong adalah beberapa contoh bagaimana graduated sovereignty telah berhasil membawa developmentalisme menuju fase yang lebih sesuai dengan kuasa arus kapital global, yaitu post-developmentalisme yang juga tidak meninggalkan elemen-elemen otokratiknya.

Oleh karena itu, selain sebagai sebuah ideologi hegemonik, neoliberalisme (dengan huruf ‘n’ kecil) juga perlu dipahami sebagai seperangkat teknologi yang menyelaraskan dan memanipulasi kuasa negara, terutama dalam politik dan budaya, terhadap arus kapital global (Ong, 2007).

Perlunya Diskursus Alternatif

Derasnya pengaruh media sosial seperti Facebook dan Twitter serta pengaruh Revolusi Arab, membuat Asia kembali menyaksikan pergolakan dunia pasca Krisis Finansial 1997. Pergolakan ini sedikit banyak juga memengaruhi konstelasi politik-ekonomi dan keamanan di Asia Timur dan evolusi norma-norma regional di Asia Tenggara, yang merupakan suatu pertanda bahwa another Asia is possible. Namun demikian, perlu disadari bahwa Neoliberalisme masih merupakan diskursus hegemonik di Asia. Hardt dan Negri berpesan bahwa runtuhnya batas-batas dan kemunduran otoritas negara-bangsa baik dalam konteks global maupun nasional karena neoliberalisme, juga akan melumpuhkan wacana-wacana alternatif yang progresif dan internasionalis. Karena itu, diskursus alternatif yang kritis terhadap wacana neoliberalisme di Asia menjadi sebuah keperluan, jika tidak keniscayaan.***

Kepustakaan:

Bourdieau, Pierre. (1998). The essence of neoliberalism. Le Monde Diplomatique. Retrieved from http://mondediplo.com/1998/12/08bourdieu

Crotty, Jim & Dymski, Gary. (1998). “Can the Global Neoliberal Regime Survive Victory in Asia? The Political Economy of Asian Crisis”. International Papers in Political Economy, 5(2), 1-47.

El Fisgon. (2005). Menghadapi Globalisasi: Kiat Gombal Buat Pengusaha Kecil. Serpong: Marjin Kiri.

Fukuyama, Francis. (1992). The End of History and the Last Man. New York, NY: The Free Press

Friedman, Thomas. (2005). The World is Flat. New York, NY: Farrar, Straus, and Giroux.

Hadiz, Vedi R. (2006). Introduction. In Hadiz, Vedi R. (Eds.), Empire and Neoliberalism in Asia (pp. 1-20). Oxon, OX & New York, NY: Routledge.

Hardt, Michael & Negri, Antonio. (2000). Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Hart-Landsberg, Martin. (2002). “The Mexican Experience with Neoliberalism: Critical Lessons for Korea and East Asia”. Retrieved from http://iss.gsnu.ac.kr/upfiles/publications/proceedings/martinhartlandsberg.pdf

Mahbubani, Kishore. (2008). The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East. New York, NY: Public Affairs.

Mithchell, Katharyne. (2004). Crossing the Neoliberal Line: Pacific Rim Migration and the Metropolis. Philadelphia, PA: Temple University Press.

Ong, Aihwa. (2006). Neoliberalism as Exception: Mutations in Citizenship and Sovereignty. Durham and London: Duke University Press.

Ong, Aihwa. (2007). “Boundary Crossings: Neoliberalism as a mobile technology”.  Transactions of the Institute of British Geographers, 32(3), 3-8.

Thorsen, Dag Einar. (2009). “The Neoliberal Challenge: What is Neoliberalism?”. Department of Political Science, University of Oslo Working Paper, 1-25.

Interfaith tolerance challenges Indonesian Islam, democracy

Monday, Feb. 21, 2011
Interfaith tolerance challenges Indonesian Islam, democracy
By IQRA ANUGRAH
Special to The Japan Times

BEPPU, Oita Prefecture — During the heat of the Tunisian and Egyptian revolutions, which successfully toppled the respective autocratic regimes of Zine al-Abidine Ben Ali and Hosni Mubarak, some incidents in Indonesia appear to have dimmed the prospect of democracy on this side of the Islamic world.

In Pandeglang, Banten, the Ahmadiya community was attacked by mobs that caused at least three people to die and others to get injured. In the same week, just a couple of days after the Ahmadiya incident, three churches were destroyed by angry mobs in Temanggung, Central Java.

Ironically, these incidents happened in the middle of World Interfaith Tolerance Week. The rise of Islamism in the world’s biggest Muslim democracy reminds us of the warning from Farag Fouda, a prominent Egyptian progressive intellectual: Will the Islamic world pursue the path of enlightenment, or follow the path of orthodoxy and fundamentalism?

The responses to this issue of violation of religious freedom, sympathy and solidarity from people from all walks of life have been tremendous. In various online platforms, most notably Facebook and Twitter, intellectuals, public figures and laymen have expressed their solidarity toward their Ahmadi and Christian fellows.

This spirit has also moved a number of concerned citizens to immediately stage some demonstrations at Jakarta locations, including in front of the Presidential Palace. All of these street actions are driven mostly by the online activism of the middle class.

Unfortunately, the mindset of “blaming the victim” is still prevalent among a large part of the population, including public officials. It is not uncommon to hear some pejorative comments directed toward the Ahmadiya community, despite the discrimination and injustice that they have endured for a long time.

Fatwas or religious verdicts declaring Ahmadiya teachings as heretical were first issued by MUI or Indonesia’s Council of Religious Clerics in 1980. Recently Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who comes from the Islamist Party (PPP) also supported the banning of Ahmadiya teachings and practices.

Because of these fatwas, regulations and even statements from religious and state authorities, vigilantism conducted by the Islamic fundamentalist groups and other political thugs seem to find support.

In democratic polity, citizens’ participation is one of the most fundamental elements in the decision-making process. Nevertheless, democracy should not be understood merely as the will of the majority but also as the aspiration of minorities, including the Ahmadiya community. Thus, democracy should also be realized as the protection of minority rights, since majoritarianism alone will lead to the tyranny of majority. As a consequence, tolerance is inherently important in building a healthy democracy.

To make democracy flourish, it needs to be protected from anti-democratic and intolerant forces, because freedom cannot protect itself.

Sadly, these anti-democratic groups and associations are often protected by some particular political elites or public officials, politically or financially, for shortsighted, pragmatist interests, such as to garner more votes in elections — a proof of historical remains from the authoritarian era.

These violent acts toward Ahmadiya are not the first. They add to the long list of violent acts committed by state and society in Indonesia. It is not surprising that some observers on Indonesian politics, such as Henk Schulte-Nordholt (2002), argued that this is a continuation of the genealogy of violence in Indonesia.

Moreover, it is an indisputable fact that Ahmadis, Christians and other minorities are part and parcel of Indonesian society. They have been a part of Indonesia’s social fabric even before the state came into existence officially.

In fact, these minorities have contributed a lot in the process of nation building. Regardless of different interpretations of these incidents and allegations about who is the true mastermind, to respect and protect their rights to live and freely exercise their religious beliefs are the duty and obligation of the state and society. It is true that these minorities, particularly the Ahmadis, have doctrines significantly different from mainstream Islam, but that does not validate any hostilities and even killings toward them.

What we need rather is constructive theological debates and dialogues in the framework of tolerance and appreciation toward diversity, as stipulated in Islam and other religions.

As next step to addressing the current problems of lack of religious freedom and tolerance in Indonesia, several steps should be considered:

First, the state should not be absent in defending religious freedom and minority rights as enshrined in the Indonesian Constitution and Pancasila, the philosophical foundation of Indonesian state. Attacks and killings in the Ahmadiya community in Banten and churches in Central Java are another example of state failures to protect its citizens.

Second, there is a need for “securitization” of this issue. Various proofs and analyses have led to the conclusion that these incidents, considering numerous factors, are possibly orchestrated for short-term political and economic interests. Therefore, it is important to bring this case into the proper legal process.

Third, Indonesian Muslims and the Islamic world in general need to do theological and historical reflection in response to Ahmadiya and other “post-Islam” religions, such as Bahafi and indigenous religions. It is necessary to have greater understanding and tolerance despite the differing views, even if such view is considered as heretic.

Last, democracy should be translated not only as electoralism but also as protection for civil and political rights. This case basically is a litmus test for the prospect of democracy, freedom and justice in the Islamic world

Iqra Anugrah, a master’s candidate at the Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan, is active in various Islamic and student groups (twitter: @libloc). © 2011 Project Syndicate (www.project-syndicate.org)

Exclusive Interview with Prof. Jiro Mizuno

Exclusive Interview with Prof. Jiro Mizuno

by Iqra Anugrah*


Professor Jiro Mizuno is a Visiting Professor at Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan, teaches the UN peacekeeping and humanitarian operations and international legal practice, and Japan’s modern diplomacy and politics courses. He served the UN in New York and Geneva headquarters and at missions covering Palestine, Iran, Iraq, and Kosovo. He has been fellow and visiting scholar at Harvard University, Boston, a student of Professor Edwin O. Reischauer, US ambassador to Japan appointed by President Kennedy.

GP: Do you think China’s attitude in handling dispute with Japan over Senkaku Islands is a sign of China’s increasingly assertive foreign policy in the world?

China is in the process of emerging as not only a powerful state, but also a maturing state, especially in terms of its foreign policy. Thus, whether and how China can afford this evolution process is a big question. It may take time for China to transform herself into globally acceptable member of international community in much sense. Countries at the active developing phase, like current China, tend to seek interest in more expansion orientation over political and economic opportunity and influence, resources, and territory, but the question is how fast China can synchronize all of these elements in its internationally acknowledged approach. Japan’s modernization experience since the 19th century can be possibly a good lesson for China.

GP: Some critiques, particularly in Japanese domestic politics, claim that Japan’s decision to release Chinese boat captain reflects Japan’s weak diplomacy. Do you agree with that?

Japan’s release of the Chinese captain reflects the confusion in the Japanese government’s external relations approach. If they decided to apply the judicial procedure for this case, they should have done so towards the conclusion. Otherwise, the case should have been handled diplomatically, in a clear and convincing manner. The approach should not have been misinterpreted and left any space for argument, vis-à-vis China and any neighboring and possibly concerned countries. In this kind of case, an argument to divide the domestic judicial procedure and the national diplomacy, insisting that the local judicial authority’s handling is one separated process and the central government’s diplomatic handling afterwards is another, can not stand. It is up to diplomacy to decide how to handle it from the very beginning onward.

GP: How will Japan and Southeast Asian countries respond towards increasing Chinese trade and military activities in the region?

They have to press and convince the Chinese to be open and transparent regarding their foreign policy target and the military build-up. Japan and the Southeast Asian states, plus all relevant countries, can coordinate and collaborate on the common grounds of principle and approach, thus lead the international opinion, and bring the issues to be at a globally acceptable level. Economic activities should be conducted on satisfactory bilateral and multilateral standard in compliance with the international standard and regulations.

GP: Do you think that China started to move away from pragmatist and non-confrontational foreign policy to a more assertive one? Or is it simply a natural process as a rising global power?

I am not sure about the Chinese foreign policy was non-confrontational, since China has fought against neighboring states for the territorial purposes. On the other hand, China has always been pragmatic, calculating the way to seek its interest based on their capability and increased capacity. The question is how their pragmatism can affect its policy set-up thus properly function in the harmony with other countries which pursue the similar pragmatic approach and outcome.

GP: Lastly, with increasing tensions among countries in East Asia, what is your prediction of Asia’s geopolitical situation in the near future?

Human interaction among the Asian states, in cultural and intellectual exchange and business collaboration, has drastically increased and will continue, though those effects are to some extent non-quantifiable. Most of the Asian countries share the same value standard, except a few, and as long as China can not share the same moral value, its influence must be limited. Though the emerging issue of territorial disputes, some confrontational situations with military back up and economic expansion behind will continue and take place, it will not affect the major geopolitical dimension, as the countries in Asia have developed its democratic value, which is further solidifying thus becoming less vulnerable to the influence which is in absence from such a core standard.

Posted on November 26, 2010

http://www.global-politics.co.uk/blog/2010/11/26/exclusive-interview-prof-jiro-mizuno/


Politik Bencana dalam Perspektif Etika

Politik Bencana dalam Perspektif Etika

Oleh Iqra Anugrah

Serangkaian bencana alam dan musibah kembali terjadi. Mulai dari banjir bandang di Wasior, letusan Gunung Merapi, hingga gempa dan tsunami di Mentawai.

Sejumlah pertanyaan dan kontroversi muncul ketika beberapa pejabat negara melontarkan pernyataan dan tanggapan mereka. Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan bahwa bencana adalah konsekuensi tinggal di pulau. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring di akun Twitter-nya menafsirkan bencana sebagai azab, sembari mengutip ayat-ayat Al Quran.

Tentu saja perilaku dua petinggi negeri ini mendapat kritik masyarakat. Respons mereka terhadap bencana dinilai tidak pantas dan tidak peka terhadap situasi dan kondisi korban bencana yang juga warga Indonesia.

Ada beberapa cara untuk menafsirkan bencana dan kuasa Tuhan di dalamnya. Kita bisa melihat Tuhan yang sedang marah dan menghukum hamba-Nya atau Tuhan yang penuh kasih sayang yang sedang menguji hamba-Nya. Pandangan-pandangan ini kemudian menemukan justifikasi dalam kisah-kisah bencana dalam semua tradisi agama-agama, terutama bagi mereka yang menafsirkan bencana sebagai azab.

Argumen-argumen ini, menurut penulis, hendaknya dipahami secara hati-hati dan tidak berlebihan. Sangatlah tidak bijak apabila kita terjebak dalam dikotomi biner seperti di atas.

Diperlukan empati

Dengan demikian, menafsirkan apa maksud Tuhan di balik bencana menjadi tidak begitu penting. Yang diperlukan adalah empati dan solidaritas sosial dalam ikatan kemanusiaan.

Introspeksi diri perlu dalam konteks keimanan dan tanggung jawab sosial. Baik rakyat biasa maupun pejabat, kita manusia tidak luput dari kesalahan.

Yang menjadi masalah adalah kalau kita tak pernah belajar dari kesalahan, sebagaimana terlihat dalam politik bencana kita yang tecermin dalam respons pemerintah. Sebaliknya respons masyarakat Indonesia, seperti biasa, sangatlah luar biasa. Solidaritas sosial tecermin dengan mengalirnya bantuan dari berbagai lapisan masyarakat.

Tentu kita tidak perlu menafikan kerja keras dari pemerintah. Namun, yang menjadi krusial di sini adalah fakta bahwa kita hidup berdampingan dengan bencana alam. Oleh karena itu, sistem peringatan bencana dan penanganan pascabencana menjadi krusial dan sudah sepatutnya menjadi perhatian dan agenda utama pemerintah.

Dalam disiplin ilmu politik dan hubungan internasional, bencana alam dikategorikan sebagai ancaman keamanan nontradisional. Paradigma baru ini dapat menjadi acuan pemerintah dalam melakukan manajemen dan mitigasi bencana, terutama jika kita memperhitungkan efek yang dapat ditimbulkan bencana pada negara-negara tetangga kita, seperti efek asap letusan gunung atau kebakaran hutan.

Di sini, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi penting. Masyarakat tentu dapat berjalan sendiri, tetapi pemerintah sepatutnya dapat menjadi pelayan dan pengayom warga negara.

Mengedepankan etika

Wasior, Merapi, dan Mentawai, semuanya merupakan momentum bagi kita semua untuk merenungkan dan mengkaji kembali pemahaman dan pengelolaan bencana kita. Di tengah-tengah arus besar solidaritas kemanusiaan, kita kekurangan satu elemen penting yang merupakan dasar bagi setiap tindakan, yaitu etika.

Sikap Ketua DPR dan Menkominfo adalah contoh nyata kurangnya etika dalam pribadi pemimpin dan penyelenggara negara kita. Alih-alih memberikan contoh dan kepemimpinan dalam menyelamatkan korban bencana, para pejabat kita malah berkomentar yang tidak perlu. Hal ini juga merupakan cerminan betapa karut-marutnya pemahaman politik dan keagamaan yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi serta kurangnya modal sosial dan tenggang rasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pusatkan ke sosial

Ke depan, segala perdebatan dan diskusi tentang bencana alam hendaknya dipusatkan pada persoalan sosial. Yang terpenting adalah bagaimana kita melihat bencana sebagai ancaman dan tantangan nasional, terutama bagi keamanan, persatuan, serta kesejahteraan bangsa Indonesia.

Bencana juga harus dilihat sebagai kesempatan untuk menyegarkan kembali kemanusiaan kita dan menyadarkan bahwa sesungguhnya kemanusiaan melintasi batas-batas suku, agama, ras, kelompok etnis, strata sosial-ekonomi, jender, maupun perbedaan dalam pandangan politik, ekonomi, maupun teologi.

Deretan bencana kali ini hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk meneguhkan kembali iman dan religiositas kita, serta mengejawantahkannya dalam solidaritas dan rekonsiliasi sosial antarsesama warga republik, dalam bingkai kebinekaan dan kedamaian.

Iqra Anugrah Mahasiswa Program Master di Graduate School of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang

http://epaper.kompas.com/epaper.php?v=1.0

http://cetak.kompas.com/read/2010/11/04/02560881/politik.bencana.dalam.perspektif.etika

The Discourse of Asian Values and its Future

The Discourse of Asian Values and its Future

In this postmodern world, Western notions of civilized society and its universality seem to be challenged by the rest of the world. Fukuyama’s “End of History” seems to be proven obsolete, and on the other hand, the rise of the rest (including alternate forms of political governance) are emerging on the global stage. In this regard, Asia exhibits itself as one of the best representatives of “the other”, challenging Western domination through its increasingly assertive foreign policy and economic power in the world. Some scholars, such as Mahbubani (2008), though may not necessarily adhere to the belief of Asian triumphalism, obviously offer a brand new outlook for forecasting the next stage of global constellation with the Asia-Pacific as its major player.

At the heart of this viewpoint, there is a rough Asian political philosophy taking shape favouring the mixture of free economics and a strong, if not authoritarian, government. It follows a communitarian way of thinking sometimes associated with Confucian philosophy, and its defenders praise it as the engine behind the rapid growth of Asian capitalism, a successful alternative to Anglo-Saxon or Western European capitalism.

To begin with, we often pose this understanding based on the achievement of the so-called “Asian miracles” or “Asian tigers”, referring to the tremendous development of Singapore, Taiwan, Hong Kong and South Korea, which was achieved in a time of political authoritarianism. China’s increasing political and economic power also cited as another example of the Asian way at its best.

However, this depiction is misleading, because it doesn’t take into account other countries in the region such as Myanmar, which suffers from a poor record of development and massive human right abuses, thanks to the economically inefficient and politically incompetent military junta, backed by geopolitical competition in the region.

Thus, the Asian model of bureaucratic authoritarian state combined with market economics does not always work in the same way, depending upon regional political and economic conditions.

Furthermore, Asia’s remarkable economic achievement can also be attributed to increased freedom in social and political aspects. This point is raised by Yasheng Huang, an expert on international political economy from MIT. There exists far more individual freedoms now in terms of social, civil and political rights compared to previous decades, even in places like China. This is Milton turned upside down: more political freedom is good for economic advancement.

Nevertheless, the economic benefits of socio-political freedoms tend to be ignored by the champions of Asian values. Instead, they try to repeatedly propagate their notion despite the fact that the role of state is diminishing in many ways, including in administering political affairs.

Although there are no major reforms or changes both in the context of multilateral relations and domestic politics in Asian countries, the seeds of liberal transformation are visible and embedded in the regional political architecture and national policies of each respective country.

At the regional level, the establishment of the ASEAN Human Rights Commission is a case where ASEAN countries were able to rethink about existing norms and regulations as well as willingness to compromise sovereignty for the sake of human rights.

Intense activities of ‘track-two diplomacy’ through the formation of epistemic communities also contributed to the changing face of the regional order, where ASEAN and other regional entities move from an elitist image towards a people-centered approach. This transformation means more participation and deliberative processes at grassroots levels, which will affect the nature of regional interactions and policymaking in the Asia-Pacific.

At the national level, the continuing wave of democratization in Indonesia is another sign of how economic improvement can go hand-in-hand with political reformation. Indeed, the rhetoric of “democracy” and “reform” has been used even by countries like Singapore and Vietnam to criticize the military junta of Myanmar.

Surely the big question of how to balance between economic development and political freedom remains unanswered. However, respective Asian societies will not have to choose between these two things. Rather, they will learn they can have both, and this kind of awareness is slowly redefining the discourse of Asian values.

Posted on September 9, 2010

Iqra Anugrah is a third year student in College of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, majoring in political science and international relations. He is a member of the Advisory Board for Strategic Studies Committee for Indonesian Students’ Association in Japan (PPI Jepang). The views expressed here are his own and do not necessarily represent the views of the PPI Jepang.

http://global-politics.co.uk/blog/2010/09/09/discourse-asian-values-and-its-future/

Radicalization from Below: The Case of Religious Bylaws

Memories of numerous bombing attacks in big cities and churches as well as the dramatic terrorist captures by the police may give an image of contemporary battles against Islamic radicalism in newly-democratized Indonesia. But think about this: rather than blowing-up buildings, some Islamist groups attempt to push the agenda of Sharia implementation through non-violent, formal and even electoral political processes.

In the euphoria of Post-Suharto reform, the blooming of religious bylaws has spread throughout the archipelago. Immature decentralization, completed with economic gap between central and local governments, has provided rooms for radical agenda to mushroom. One manifestation of this agenda is to implement strict interpretation of Islamic norms and values into local ordinances. Some examples of these bylaws are, but not limited to, Islamic dress code for students and government officials at schools and offices on certain days, raids on women alleged for prostitution and other moral misconducts at night and ban on alcohols, clubs and other entertainment activities.

In some places such as Bulukumba in Sulawesi and Bogor in West Java, some Islamic fundamentalist groups such as the Preparatory Committee for the Implementation of Islamic Sharia (KPPSI) and Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) even go further, publicly claim and preach the importance of Sharia as a panacea for all societal problems and gain support from some elements, both from local communities as well as from the government, proven by the attendance of some government officials in their forums.

There have been many reports, news, and research in regards to this phenomenon. However, one question remains unanswered: Where do political parties fit within this discourse? The role of political parties in local parliaments is still an unfilled gap in the context of the so-called Shariatization from below. Some experts, such as Assyaukanie (2007), pointed out some indications that these bylaws are supported not only by Islamic political parties but also by their Secular Nationalist counterparts as well.

Another interesting feature of the relationship between political parties and religious bylaws is the difference of stances between central or national leadership of parties and its local and regional branches. While at the national level both primary leaders of Islamic and Secular parties have expressed their objections and doubts over religious bylaws, the local dynamics are apparently much more fluid and unpredictable.

Civil society groups, NGOs, and other keen observers of politics and Islam in Indonesia criticize political parties’ support for religious bylaws as a mere political tool to obtain votes. From their perspective, the move to support religious bylaws is driven by short-sighted pragmatism and populist reaction towards the “failure” of secular administration, reflected in rising poverty, declining morality, and many other problems.

Eventually the time will come for Indonesia to face her own dilemma of democracy: how she should response to the emergence of illiberal forces in proudly-proclaimed land of pluralism and tolerance. Terrorism and hardline religious extremism may be easier to handle, but the curious case of bottom-up radicalization in the form of demand for religious bylaws definitely needs to be solved differently.

Posted on July 22, 2010

Iqra Anugrah is a third year student in College of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, majoring in political science and international relations. He is a member of the Advisory Board for Strategic Studies Committee for Indonesian Students’ Association in Japan (PPI Jepang). The views expressed here are his own and do not necessarily represent the views of the PPI Jepang.

http://www.global-politics.co.uk/blog/2010/07/22/radicalization-below/

Republik, Kebebasan, dan Kemerdekaan

Republik, Kebebasan dan Kemerdekaan

Oleh Iqra Anugrah*

Beberapa hari lagi menjelang ibadah di bulan suci Ramadhan sekaligus peringatan kemerdekaan Indonesia, bangsa kita kembali diguncang berbagai macam peristiwa yang menyerang sendi-sendi kehidupan berbangsa. Aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh ormas-ormas berbaju agama seperti Front Pembela Islam (FPI) maupun hiruk-pikuk permainan politik dan modal yang tecermin dalam usulan pencalonan Tommy Suharto sebagai calon presiden pemilu 2014 merupakan suatu bukti nyata bahwa prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara kita sangat rentan dengan penyakit-penyakit fundamentalisme dan radikalisme keagamaan, terorisme dan ancaman keamanan lainnya, serta oligarki dan korupsi politik dan ekonomi.

Dalam kaitannya dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-65, mari kita renungkan sejenak realita yang terjadi di hadapan kita dengan visi kemerdekaan yang dicita-citakan oleh the founding fathers. Setelah lebih dari 10 tahun proses reformasi dilakukan, adalah suatu hal yang sangat memalukan bahwasanya kita seringkali menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang statis dan kosong, taken for granted, bukannya mengisi dan berperan aktif dalam memaknai arti kemerdekaan. Akibatnya, kemerdekaan hanyalah sekedar menjadi slogan, yang dalam sejarah kita seringkali dibajak demi syahwat politik dan ekonomi jangka pendek, baik demi “revolusi”, “pembangunan”, maupun dalam nama “agama”.

Sehingga, ada dua pertanyaan yang perlu dijawab mengenai kemerdekaan dan kemandekan perkembangan masyarakat kita yang tercermin dalam berbagai kejadian-kejadian yang merapuhkan landasan republik: apa arti sebenarnya dari kemerdekaan dan sudahkah kita mencapai cita-cita kemerdekaan?

Kemerdekaan, dalam pandangan penulis, dapat diartikan dalam dua konsep yang mudah dan seringkali disalahartikan dalam diskursus politik kita: kebebasan dan republikanisme, yang mencakup berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara secara komprehensif.

Pertama, kebebasan pada hakikatnya adalah esensi dari perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk terbebas dari tekanan dan dominasi luar kolonialisme, untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Kebebasan ini juga bersifat universal dan unik di tiap zaman dan kondisi serta merupakan tema yang utama dari sejarah panjang umat manusia mencari arti hidupnya, seperti dapat kita lihat di zaman keemasan atau The Golden Age peradaban Arab-Islam yang menjamin kebebasan berekspresi dan berpikir sehingga memungkinkan transfer ilmu dan pengetahuan filsafat Yunani ke peradaban Barat yang sedang dalam masa kegelapan, ataupun lahirnya konsep kebebasan kewargaan di Barat yang diperjuangkan oleh kaum pedagang dan intelektual, artes liberales, melawan feodalisme dan struktur sosial-politik dan ekonomi yang mengekang manusia.

Kedua, dalam konteks keIndonesiaan, kebebasan menjadi penting karena Indonesia tidak hanya membutuhkan kebebasan positif (freedom to) namun juga kebebasan negative (freedom for) yang menjamin warga negara untuk mengembangkan potensi dan kemanusiaanya dalam struktur politik yang menjamin hak-hak sipilnya, yang merupakan gagasan utama dari republikanisme, yaitu menjamin hak-hak warga dalam bingkai supremasi hukum atau rule of law, bebas dari tekanan konservatisme dan dominasi dari berbagai bentuk institusi-baik dari negara, modal, maupun agama.

Berangkat dari ide-ide ini, apa yang terjadi sekarang merupakan refleksi bahwa kita belum mencapai cita-cita kemerdekaan. Kemerdekaan membutuhkan kebebasan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, yang dijaga dalam kerangka hukum. Kemerdekaan juga mensyaratkan kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua, tempat di mana keragaman dan perbedaan dalam suku, agama dan kelas sosial ditanggapi dengan toleransi dalam bentuk semangat keterbukaan dan dialog.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah sanggupkah kita mewujudkan cita-cita kemerdekaan dalam bingkai kebebasan dan republikanisme?

Tiga Kebebasan

Untuk menjawab tantangan kemerdekaan dan memperkuat demokrasi di Indonesia, diperlukan tiga bentuk kebebasan dari berbagai bentuk dominasi yang menjalar di Indonesia.

Yang pertama adalah kebebasan pikiran, kebebasan dari ketertutupan dan fundamentalisme, yang akan mengakibatkan sikap inward-looking dan kejumudan berpikir yang akhirnya akan mempersempit pola pikir menjadi “kita vs mereka” yang tentunya tidak sehat bagi kehidupan dalam republik kita.

Kebebasan yang kedua adalah kebebasan dari dominasi modal dan institutionalisasi nafsu-nafsu materialistik demi kekuasaan politik maupun ekonomi jangka pendek. Pada tataran sosio-kultural, dominasi modal akan membuat manusia mudah tergelincir kepada fundamentalisme demi “jalan singkat” penyelesaian masalah hidup, sedangkan pada tatanan politik dan legal, dominasi modal akan melahirkan kekuasaan yang koruptif yang tidak transparan dan eksploitatif. Keduanya berujung kepada warga negara yang tidak terbebaskan, suatu kondisi yang akan mengurangi kebebasan mereka sebagai manusia dan kontribusi mereka terhadap republik.

Adapun kebebasan yang ketiga adalah kebebasan dari dominas politik dan ketakutan. Tersedianya ruang bagi aktivitias politik yang deliberatif dan demokratis adalah suatu keharusan bagi sebuah entitas politik yang menamakan dirinya sebagai republik. Kebebasan politik dan penegakan hukum adalah wadah dimana warga negara dapat melakukan haknya, bebas dari tekanan dan ketakutan yang menghalangi warga untuk bertindak.

Dalam tataran kebijakan, tiga kebebasan ini dapat dimanifestasikan dalam “resep” yang cukup mudah, yaitu menanamkan dan mengembangkan “keyakinan publik” atau civic religion terhadap demokrasi dan institusi pendukungnya, supremasi hukum, toleransi dan pluralisme. Perananan kaum intelektual juga menjadi penting, sebagai katalisator untuk transfer nilai-nilai kebebasan dan republikanisme terhadap masyarakat serta “penjaga rel” dan pengawas pemerintah. Menghadapi ancaman dalam berbagai bentuk, baik itu fundamentalisme keagamaan maupun oligarki politik-ekonomi, Indonesia akan tetap merdeka dan tidak perlu gamang selama ia berpegang teguh pada prinsip kebebasan dan republikanisme.

*Iqra Anugrah adalah Mahasiswa di College of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Ia aktif dalam berbagai gerakan pelajar dan civil society.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/08/14/INDEX.SHTML

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/08/14/Opini/krn.20100814.209088.id.html